Reward Vs Punishment Motivation

Berdasarkan sumbernya, motivasi dapat dibedakan atas motivasi internal dan motivasi eksternal. Motivasi internal biasanya berupa rangsangan dari dalam diri sendiri. Misalnya keinginan untuk rajin membaca buku pelajaran karena ingin pintar dan sukses di masa depan. Sedangkan motivasi eksternal biasanya karena adanya rangsangan dari luar diri kita. Misalnya rajin membaca buku karena akan diberikan boneka buaya.

Sedangkan berdasarkan bentuknya, motivasi biasanya dibedakan atas reward dan punishment motivation. Reward motivation muncul karena adanya rangsangan berupa pemberian hadiah. Contoh: mau menikah dengan duda beranak 3 karena akan dibelikan mobil sedan tipe terbaru. Sedangkan punishment motivation muncul karena adanya rangsangan berupa pemberian hukuman atau sanksi. Contoh: tidak melakukan tindak pidana korupsi karena takut ditangkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa secara taksonomi, reward dan punishment motivation ini masuk ke dalam karegori motivasi eksternal. Namun ada juga yang mengatakan bahwa reward dan punishment itu bisa berasal dari diri sendiri. Contoh: seorang laki-laki ingin selalu menjadi juara kelas karena akan merasa malu pada diri sendiri jika dikalahkan oleh perempuan. Rasa malu itu merupakan sebuah bentuk konsekuensi atau sanksi yang akan dia terima jika gagal menjadi juara kelas. Rasa malu itu tentu datang dari diri sendiri.

Pada bagian ini ijinkan saya membahas sedikit tentang perbedaan landasan munculnya motivasi reward dan punishment tersebut. Sedangkan tujuan dari semua itu cuma satu, yaitu memotivasi agar melakukan sesuatu demi mendapatkan hasil yang diharapkan.

timbanganReward dimunculkan untuk memotivasi seseorang karena ada anggapan bahwa dengan memberikan hadiah atas hasil pekerjaannya, ia akan bekerja lebih maksimal. Apalagi jika hadiah yang diberikan cukup menggiurkan. Sedangkan punishment dimunculkan untuk memotivasi seseorang agar tidak melakukan kesalahan dalam melakukan sesuatu. Kedua bentuk motivasi ini tidak bisa dikatakan mana yang benar dan mana yang salah. Tetapi lebih cocok jika dilihat dari baik dan buruknya, bukan benar atau salahnya. Sebagai contoh saya berikan sebuah cerita yang pernah saya baca dari sebuah buku (dengan improvisasi seperlunya):

Ada 2 buah perusahaan manufaktur yang saling berkompetisi. Perusahaan pertama (sebut saja A) menerapkan sistem reward motivation kepada para karyawannya dimana jika mereka berhasil membukukan peningkatan pendapatan minimal 4% pada tahun ini maka tahun depan gaji mereka akan dinaikkan sebesar 10%. Sedangkan perusahaan kedua (sebut saja B) menerapkan sistem punishment motivation dimana jika karyawannya melakukan kesalahan yang menyebabkan terjadinya defect (kerusakan) pada produk manufaktur mereka, maka karyawan tersebut diharuskan lembur selama 1 jam tanpa dibayar. Menurut pembaca, kira-kira perusahaan mana yang lebih maju, A atau B?

Dari cerita yang saya baca tersebut ternyata yang lebih maju adalah A. Kenapa? Hal ini berhubungan dengan pola pikir yang akan mengarahkan tindakan seseorang. Ketika karyawan A dijanjikan dengan kenaikan gaji jika terjadi peningkatan pendapatan perusahaan, maka para karyawan tersebut akan berjuang untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas. Sebab dengan jumlah produk yang lebih banyak dan kualitas yang lebih bagus maka produk mereka akan semakin banyak yang laku terjual di pasar sehingga bisa menghasilkan laba yang lebih banyak. Sedangkan pada perusahaan B, karyawannya akan berpikir bagaimana caranya untuk tidak melakukan kesalahan. Mereka akan cenderung bekerja sesuai dengan standart tanpa mau berpikir berimprovisasi. Mereka tidak peduli dengan produktivitas dan inovasi yang bisa membuat produk yang lebih baik. Mereka hanya terpaku pada bagaimana agar tidak merusak produk manufaktur. Keterpakuan itu akibat adanya ketakutan terkena hukuman. Akibatnya produk mereka akan menjadi biasa-biasa saja.

Lantas, apakah punishment motivation akan selalu berdampak negatif seperti contoh tersebut? Seperti yang saya katakan tadi bahwa kedua bentuk motivasi ini lebih cocok dilihat dari baik dan buruknya. Kebaikan dan keburukan itulah yang tentunya bergantung pada kondisi atau subjek penerapannya. Kebenaran itu mutlak, sedangkan kebaikan itu kondisional. Baik pada satu kondisi bisa jadi buruk untuk kondisi yang lainnya. Sebagai contoh saya mempunyai seorang teman kos beberapa tahun yang lalu. Bisa dikatakan ia termasuk mahasiswa yang ketinggalan dalam hal akademik dengan teman-teman satu angkatannya. Padahal orang tuanya pernah berkata didepan kami berdua bahwa apapun permintaannya, sekali lagi apapun permintaannya akan dipenuhi asalkan bisa meraih IPS (indeks prestasi semester) di atas 2,0. Saya rasa IPS sebesar itu bisa diraihnya tiap semester. Tetapi kenyataannya ia tetap lebih senang pacaran, nyangkruk (nongkrong) di warung kopi, dan lain sebagainya, sampai membuat ia di drop out (DO). Justru saya melihat bahwa ia menyempatkan kuliah meskipun dengan mata mengantuk karena ada batasan minimal 80% harus mengikuti kelas tiap mata kuliah.

dosen mengajarDengan mempelajari karakter dasar subjek atau kondisi dimana kita memberikan motivasi, maka kita bisa menerapkan bentuk motivasi yang sesuai dengan subjek atau kondisi tersebut. Hal selanjutnya adalah melakukan evaluasi terhadap penerapan bentuk motivasi yang kita berikan. Saya mempunyai seorang dosen yang mana beliau pernah bercerita bahwa ia sedang melakukan uji coba pada kami. Ia sedang mencoba menerapkan cara belajar yang baru yang dia anggap lebih relevan dengan mahasiswa zaman sekarang. Bagi saya hal itu tidak masalah meskipun saya harus menjadi bagian dari “kelinci percobaannya”. Hal positif yang saya tangkap adalah bahwa ia mau mempelajari karakter mahasiswanya dan menyadari bahwa selalu terjadi perubahan pada tiap generasi mahasiswa yang diajarnya.

Gambar: http://fc04.deviantart.net http://armandfrasco.typepad.com http://www.muhajirlawfirm.com

5 Comments

  • charelfriendly Reply

    Reward and Punishment: Bagaimana kalau keduanya dipadukan?

  • chika yunindra Reply

    Nice info, saya lg butuh bgd materi tentang reward and punishment, apakah anda punya teori2 tentang reward and punishment tsb?? kalau ada bukunya, atau bahan bacaan yg berisi teori2 tesebut apa bisa memberitahu saya..

    trimakasiih 🙂

    • HelNes

      saya gak punya bukunya mbak..dulu pernah baca, itupun pas wkt ke gramed..hehehe. saya rasa di gramedia banyak kok..saya sering lihat.

  • Herniawan Reply

    Terima kasih untuk informasinya yang sangat bermanfaat. Motivasi dari diri sendiri sangat penting. Karena jika dimotivasi oleh lain, maka motivasi kita akan tergantung pada orang. Bayangkan jika orang yang memotivasi kita adalah sandaran kita, maka jika sandaran itu roboh maka kita akan jatuh. Seperti itulah jika mendapatkan inspirasi dan motivasi dari orang lain. Internal motivation lebih penting dari pada external motivation

    Terima kasih
    Motivation and Self Improvement
    .-= Herniawan´s last blog ..Motivation and Self Improvement to Find Problem Solution =-.

    • HelNes

      Iyap..benar sekali bung. Internal motivation lebih kuat akarnya karena dari diri sendiri sehingga pengaruhnya bisa bertahan lama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

[+] kaskus emoticons nartzco

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.