Kalau Bisa Dipermudah, Ngapain Dipersulit?

Sudah beberapa kali rasanya saya melakukan sesuatu dengan cara yang rumit, agak rumit, atau mendekati rumitlah. Padahal sebenarnya bisa diselesaikan dengan cara mudah. Saya yakin rekan-rekan pembaca juga pernah melakukan hal serupa baik yang rekan-rekan sadari maupun yang tidak.

Contohnya saja ketika saya SMA dulu, saya lumayan suka menghabiskan waktu untuk mengerjakan soal-soal dari buku Matematika dkk (H) . Tapi saya sering melihat beberapa soal saya selesaikan dengan metode yang lumayan rumit dan panjang, padahal bisa diselesaikan dengan cara yang mudah, bahkan kata guru Matematika saya “ditengok-tengok aja dapat” (Baca: cukup dilihat saja bisa diselesaikan). Sisi positifnya memang bisa membuat kita berpikir lebih jauh dan lebih dalam atau melatih otak untuk berpikir lebih sulit. Tetapi, dibanyak kondisi, cara yang simpel, praktis, dan cepat jauh lebih dibutuhkan. Apalagi kalau melihat masalah tersebut tidaklah rumit.

Banyak jalan menuju Roma, begitu pepatah lama mengatakan. Tetapi sering kita justru tidak memikirkan jalan lain yang sebenarnya bisa kita gunakan dari yang biasanya. Masalah yang biasanya kita anggap rumit, sering membuat kita berpikir bahwa masalah itu hanya bisa diselesaikan dengan cara yang rumit pula. Saya sendiri malah sering tidak percaya dengan cara simpel yang saya gunakan untuk menyelesaikan masalah yang rumit. Ujung-uujungnya, sebuah masalah yang sederhanapun akhirnya membuat kita berpikir untuk menyelesaikannya dengan cara yang rumit.

Kemarin, tiba-tiba dosen saya memberikan short test (short quis) dikelas. Mata kuliah yang saya ambil ini memang termasuk mata kuliah yang sulit di jurusan saya. Nah, karena dipikiran saya sudah tertanam bahwa mata kuliah ini penuh dengan materi yang sulit, jadinya segala soal-soal test yang diberikan oleh dosen tersebut dianggap sulit. Cukup lama saya berpikir mencari metode yang bisa dipakai. Lama kelamaan sadar juga bahwa sebenarnya soalnya sangat sederhana. Tapi tetap saja saya tidak percaya dengan soal yang sederhana itu. “Kok cuma seperti ini sih penyelesaiannya? Kok sederhana?” Pertanyaan itu juga dilontarkan oleh teman-teman dikelas. Hmm, ini dia akibat kita selalu dihujani dengan materi dan soal yang sulit. Ha3x.

Bagi sebagian orang, tak terkecuali saya, sesuatu yang rumit bisa menjadi tantangan. Tapi seperti yang saya katakan diawal, dibanyak kondisi, cara simpel, praktis, dan cepat sangat dibutuhkan, karena cara yang efektif dan efisien yang lebih dicari. Efektif karena tepat untuk menyelesaikan masalah, dan efisien karena lebih hemat waktu dan biaya.

10 Comments

  • ajikinai Reply

    (Y) tergantung kita aja yg memudahkannya. plus tdk boleh mengeluh ya, kalo ngeluh mah pasti tambah rumet… 🙂

    • HelNes

      nah itu dia..betul sekali.apalgi klw mengeluh..yg mudahpun jadi serasa sulit(Y)

  • Bobby Reply

    yoi Lae!

    kita terlalu sering dicekoki yg susah2.. begitu dikasi yg gampang, malah kita persulit sendiri.. kita harus lebih jeli aja dalam melihat kondisi Lae!

    *awalnya kirain mau bahas birokrasi, hehehe..

    • HelNes

      Pengalaman brg km nih bob, pas quis PPC tempo hari..hehehehe

      Bosan bahas birokrasi di negara kita nih bob..wkwkwkwkw..ceritanya itu2 mulu.. (H)

    • HelNes

      Buatnya mudah kok..tp musti pake WordPress CMS..di blogspot juga bisa bikin kayak gini..klw pgn tau bisa baca blog tutorial website punyaku juga tia .. (H)

    • HelNes

      Siip tia.. (Y)

  • atw Reply

    mampir berkunjung gan….

    • HelNes

      Terima kasih gan.. (Y)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

[+] kaskus emoticons nartzco

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.