Menuju Ruang Masa Depan Baru (3)

Mengakhiri masa liburan dan meninggalkan kampung halaman cukup membuat saya bersedih hati. Satu minggu rasanya masih kurang untuk mengobati rindu selama 3 tahun tidak pulang kampung. Tapi saya memang harus segera kembali ke Tangerang karena rencana saya waktu itu adalah mencari pekerjaan baru sambil menunggu panggilan lagi dari BCA. Tentu agak sulit jika tiba-tiba saya dipanggil oleh BCA sedang saya masih di Sumatera Utara mengingat perjalanan dari desa saya cukup jauh dan belum tentu mendapatkan tiket yang pas dan murah.

Perjalanan Jauh

Ketika di rumah orang tua, saya sama sekali tidak memberitahu bahwa saya sudah pasti resign dari LG. Tapi mereka sudah tahu keinginan resign itu sejak lama. Bahkan, saya memberitahu bahwa saya mencoba BCA juga ketika pulang kampung itu. Barulah pada hari Selasa tanggal 6 September 2011 saya memberitahu kalau saya resign dari LG. Orang tua saya memang hebat. Mereka tetap tenang menerima kabar itu. Padahal saya cukup takut memberitahunya. Mereka justru tetap memberikan semangat kepada saya. Sewaktu di rumah, saya pernah bilang ke orang tua saya  “kita tidak perlu takut akan rejeki. Tuhan Yesus bahkan bisa mengalahkan kematian. Apalagi untuk rejeki. Tuhan pasti mudah memberikannya”. Dan kalimat itu diberikan lagi kepada saya. Saya memang tidak takut. Tapi saat itu saya cukup malu karena merenggut kebanggaan mereka sementara.

Khawatir Menganggur

Keesokan harinya saya ditelp lagi sama Mamak. Seperti biasa dia memberi semangat. Herannya, sehabis bertelpon, saya beranikan untuk menelpon langsung ke BCA menanyakan hasil test saya. Sungguh rencana Tuhan sangat indah. Saya diberitahu bahwa hasil test kesehatan saya OK dan saya diterima mengikuti BCA Development Program. Ternyata, BCA sempat menghubungi saya beberapa kali tapi selalu gagal karena ada kemungkinan saya ditelpon saat HP sedang mati. BCA mengatakan bahwa programnya akan dimulai tanggal 10 Oktober 2011 dan saya diminta untuk mempersiapkan dokumen-dokumen yang harus dibawa pada sat sign contract. Untuk tanggal pasti sign contract, mereka mengatakan belum pasti tapi sekitar awal Oktober. Tanpa menunggu lama, saya langsung memberitahu kabar baik tersebut ke orang tua dan kakak saya.

Sempat saya berpikir seandainya saya tahu kabar ini sebelum pulang kampung, mungkin saya bisa berlama-lama berada disana. Kalau kembali lagi ke Sumatera Utara cukup susah juga mengingat keuangan sudah cukup menipis. Hehehehe. Saya akhirnya merencanakan liburan ke Surabaya dan Gresik.

Jawa Timur Trip

Surabaya sudah seperti kampung kedua saya (meskipun Surabaya itu sebuah kota besar..:D). Wong, saya kuliahnya disana, 5 tahun malah..hahaha. Waktu pertama kali datang, panas Surabaya yang menyengat saya anggap sebagai tanda kalau kota itu mengusir saya. Mungkin karena kulit sawo mateng (bukan busuk ya :D) saya yang cukup sensitif..wkwkwkwkw. Tapi lama kelamaan saya mulai beradaptasi dan bisa membuat kulit sawo saya semakin mateng (tepatnya semakin busuk dan hitam..hahaha). Budaya, suasana, dan keramahtamahan arek-arek Surabaya yang belum pernah saya dapatkan sebelumnya itulah yang membuat saya selalu merindukan Surabaya.

Kota Surabaya

Begitu pula dengan Gresik. Kota yang terkenal dengan warung kopi dan nasi Krawu-nya. Semasa kuliah di ITS dulu, saya punya teman akrab yang selalu mengajak bermain ke rumahnya di Gresik, tepatnya Desa Gumeno, Manyar. Keluarganya memperlakukan saya sebagai bagian dari mereka. Saling berbagi cerita, bertukar pikiran, dan kebaikan orang tua bisa saya dapatkan dari keluarganya. Sangat menyenangkan.

Alun-alun Gresik

Daaan…beruntunglah saya karena diberi Tuhan banyak waktu untuk merasakannya lagi. Yap, 11 September 2011 kemarin saya berangkat lagi ke Surabaya menggunakan kereta api. Selain untuk liburan, tujuan lain saya ke kota Pahlawan tersebut adalah untuk memasukkan titipan berkas lamaran teman saya ke SAC ITS dan untuk test TOEFL supaya bisa mendapatkan sertifikat yang ter-update, serta agenda penting lainnya adalah menghadiri wisuda salah satu teman seperjuangan saya di MBP (Mahasiswa Bona Pasogit) ITS. Tapi ada lagi tujuan tersembunyi, yaitu untuk penghematan..hahaha..Berhubung waktu itu uang semakin menipis dan makanan di Jakarta harganya selangit padahal rasanya tak seberapa, maka Surabaya jadi pilihan. Sebagai pembanding, beberapa hari sebelum berangkat ke Surabaya saya sempat merasakan makanan 1 potong ayam bakar + 2 porsi nasi uduk + 1 gelas es teh manis senilai Rp. 22 ribu di Jakarta. Sementara setiba di Surabaya, saya makan dengan porsi yang sama harganya hanya Rp. 24 ribu. Eittss..Itu untuk 3 orang lho. Waktu itu saya traktir 2 orang teman saya. Jadi, 1 orang hanya menghabiskan Rp. 8 ribu. Rasanya sama saja. Sama-sama enak tentunya..hehehe.

Sesampainya di Surabaya, saya langsung menuju ITS dan bertemu dengan beberapa teman dan junior-junior saya yang masih betah jadi mahasiswa disana. Aroma kampus benar-benar membangkitkan gairah saya untuk melanjutkan kuliah yang tahun lalu benar-benar tidak terpikir bahkan tidak mau saya pikirkan. Selain bertemu kangen dengan mereka, hal penting lain tentunya adalah foto-foto..hahahahaha.

Foto di Gerbang Utama Kampus ITS
Ngopi di Jembatan MERR (tempat nyangkruk favorit semasa kuliah)

Keesokan harinya, setelah memasukkan lamaran teman ke SAC ITS, saya berangkat ke Gresik. Saya berangkat ke rumah teman akrab saya, Gilang Perdana Putra. Teman seperjuangan di ITS. Sempat 2 tahun bersama di Teknik Industri (TI) sebelum akhirnya ITS men-drop out dia dari TI. Saya yakin ITS menyesal melakukannya. Setelah itu, ia mengambil program pendidikan 1 tahun di Program Desain ITS. Setelah ia lulus, saya sempat beberapa kali bertemu dengannya terutama ketika ia berangkat ke Bekasi untuk bekerja disana. Bahkan, ketika bekerja di Bekasi dan saya bekerja di Tangerang, kami sempat bertemu 1 kali bersamaan kedatangan kedua orang tuanya kesana. Saat bertemu di Bekasi, ia sudah menikah dengan Etik (saat itu sedang hamil muda). Etik itu pacarnya sejak tahun 2006 yang akhirnya ia nikahi. Dulu, masa-masa Gilang PDKT dengan Etik juga adalah masa-masa saya PDKT dengan pacar saya dulu yang saya pacari sampai saya bekerja di LG Tangerang. Bahkan, dulu kami sampai berbagi pulsa untuk bisa SMS-an dengan calon pacar masing-masing..hahahaha..Lucu kalau ingat kenangan itu. Banyak kenangan bersama teman saya ini. Walaupun ada kenangan pahit yang kami rasakan bersama, tapi semuanya tetap terlalu indah untuk dilupakan. Ditambah pula kebaikan yang saya dapatkan dari keluarganya, membuat saya merasa he is my brother. 

Perjalanan ke Gresik tidak terlalu jauh. Hanya sekitar satu setengah jam kalau ditempuh dengan sepeda motor. Awalnya kedatangan saya ke Surabaya dan bahkan ke rumahnya di Gresik tidak saya beritahukan. Hanya ayahnya waktu itu yang saya beritahu dan itupun karena saya tidak berani berbohong ketika beliau bertanya kapan saya datang ke Gresik. Gilang sekarang sudah mempunyai seorang putri yang cantik (bulan Desember ini umurnya mungkin sekitar 6 bulan). Selama ini saya masih merasa bersalah dengan Gilang dan keluarganya. Saya tidak bisa menghadiri pernikahannya karena waktu itu saya sedang menjalani training di LG sebagai karyawan baru. Ntah kapan saya bisa membalas kebaikan mereka :).

Diperjalanan saya singgahkan ke sebuah pusat perbelanjaan untuk membeli sebuah baju dan sebuah boneka untuk anaknya. Saya bingung memilih oleh-oleh terbaik yang seharusnya saya bawakan untuk mereka. Sesampainya di depan rumahnya, saya cukup terharu karena mereka sudah berkumpul disana menunggu saya. Pertemuan itu benar-benar mengharukan bagi saya. They have 2 new family members. Saat ini, Gilang memang sudah memutuskan untuk berhenti bekerja di Bekasi dan memilih untuk berwirausaha di desanya.

Gilang dan Putrinya Noya Ajeng Pratiwi

Herannya, ayah Gilang sepertinya masih lebih suka kalau teman saya itu bekerja di sebuah perusahaan dari pada berwirausaha. Saya memang tidak mengerti pasti alasan beliau. Tapi selama berada disana saya berpikir bahwa ada 2 alasan utama. Pertama, kedewasaan Gilang yang masih diragukan oleh ayahnya. Menurut ayahnya, sebagai seorang suami, Gilang mestinya lebih giat bekerja dan lebih disiplin. Etos kerja dan kedisiplinan itu memang belum begitu tampak dalam diri Gilang. Berbeda dengan ayahnya yang memang memiliki kedua hal tersebut (beliau bekerja di PT. Petrokimia Gresik). Secara finansial, keluarganya cukup mapan apalagi jika dibandingkan dengan keluarga saya. Hal ini sudah terlihat sejak saya mengenal Gilang. Namun, ayahnya ingin Gilang berusaha dan bergerak sendiri sebagai seorang suami, bukan menunggu modal 100% dari ayahnya apalagi berharap harta warisan. Sebenarnya, usaha yang sedang dijalani Gilang saat ini pun sebagian besar dimodali oleh ayahnya. Mungkin hal ini memunculkan pikiran bahwa Gilang memang sebaiknya bekerja di perusahaan supaya punya etos kerja dan kedisiplinan yang tinggi.

Setiap hari, ayahnya selalu murung melihat Gilang karena bangun selalu kesiangan. Kadang saya merasa bersalah karena ayahnya langsung membandingkan dengan saya yang selama disana pasti bangun lebih pagi dan bahkan sesekali olah raga. Saya pengen bangun kesiangan. Tapi sejak bekerja, mata saya sudah terprogram untuk bangun paling lama jam 6 pagi. Bangun kesiangan dianggap ayahnya sebagai bentuk kemalasan. Beliau juga berpikir bahwa Gilang masih belum mampu mengatur bisnis di usahanya. Hari-hari selalu dijalani dengan ketidakharmonisan diantara keduanya.

Alasan kedua adalah adanya pandangan negatif dari tetangga-tetangga. Mungkin karena masih berbudaya pedesaan, sebagian orang disana menganggap bahwa orang sukses adalah orang yang menjadi buruh di sebuah perusahaan, bukannya orang yang punya usaha sendiri. Saya bisa marasakan aroma pemikiran seperti itu sedang bertebaran di setiap gang desa karena saya sendiri anak desa. Mungkin hal ini membuat ada perasaan tertekan atau gengsi dalam diri ayah teman saya. Kita memang tidak bisa memaksakan orang lain agar berpikiran dan bersikap seperti kita. Namun, bukan berarti pula kita harus menuruti pikiran dan sikap orang lain.

Saya pikir teman saya dan ayahnya sudah saatnya berhenti saling menyalahkan karena mereka adalah sama-sama pribadi yang sangat baik. Sudah saatnya pula mereka saling bertukar pikiran, dan terutama adalah membangun keterbukaan. Sejak pertama datang ke rumahnya, saya melihat suasana yang terlalu formal antara Gilang dan ayahnya. Mereka berbicara seperlunya. Gilang memang saat itu cukup membandel. Padahal saya tahu bahwa ayahnya orangnya baik. Bahkan sangat baik. Kebutuhan dan permintaan Gilang dipenuhi. Berbeda dengan keluarga saya. Kasih sayang dan keakraban dari orang tua kami secara otomatis membangun rasa hormat yang tinggi dari anak-anaknya.

Gilang sebenarnya sekarang sangat ulet bekerja. Saya berani mengatakan bahwa ia 180 derajat berpaling dari kebiasaan buruknya semasa kuliah. Dulu, ia paling malas Sholat. Sekarang sudah rajin. Obrolan dengannya dulu kebanyakan tentang hal senang-senang, kegiatan anak muda, dan sisanya belum tentu tentang perkuliahan, tapi lebih ke perempuan..hahaha..Sekarang, bahan obrolan dengannya adalah pekerjaan, keluarga, dan masa depan. Ia bahkan menghindari berkumpul dengan teman-temannya dulu karena menganggap obrolan mereka masih kekanak-kanakan.

Saat bekerja pun ia sangat kuat. Selama membantu ia bekerja di tempat usahanya, ia tidak pernah terlihat kelelahan. Kami sering bekerja sampai larut malam. Saya yakin inilah yang membuat ia selalu bangun kesiangan. Hebatnya lagi, ia bukan orang yang gengsian apalagi tertekan dengan ocehan dan pandangan negatif orang lain terhadapnya. Jiwa slengean masih merekat di dirinya. Ia punya visi dan misi dalam menjalankan usahanya. Kemauan sebagai syarat mutlak sudah ada dalam pikirannya.

Saya akhirnya mencoba memberi ide kepadanya agar ayahnya tidak sering murung melihatnya. Salah satunya adalah dengan bangun lebih awal. Hal kecil memang. Tapi ini benar-benar berdampak. Saya menyarankan agar ia bangun pagi dan mengajaknya langsung bekerja. Bekerjanya tidak usah terlalu lama. Jika ia masih ngantuk mungkin bisa pulang lagi untuk tidur karena ayahnya sudah pergi bekerja. Sorenya, saya ajak ia bekerja lagi sampai ayahnya pulang. Melihat kebiasaan bangun pagi tersebut ayahnya langsung senang. Pagi hari terlihat lebih rajin senyum. Apalagi ketika pulang melihat Gilang masih bekerja di tempat usahanya.

Selama ini, saya seperti menjadi jembatan pikiran diantara mereka. Ayahya sering sharing ke saya khususnya mengenai Gilang. Sementara Gilang sering sharing ke saya mengenai uneg-uneg yang ia hadapi khususnya mengenai posisinya di mata ayahnya. Saya akhirnya mempertemukan kedua pikiran mereka dan membantu mencari solusi. Saya yakin, itu tidak perlu saya lakukan jika mereka saling terbuka dan lebih akrab.

Well, saya tetap berpikir bahwa tidak ada kesalahan yang mendasar dalam keluarga ini. Mereka adalah salah satu keluarga terbaik di dunia dan sekitarnya..hehehe..Siapapun yang datang kesana akan diperlakukan sebagai keluarga. Bahkan akhir-akhir ini, saya bisa akrab dengan adik teman saya itu. Padahal dulu kami hampir tidak pernah saling sapa. Gilang punya 3 orang adik perempuan. Satu sekarang sudah lulus dan waktu itu sedang menunggu wisuda, satu masih SMA, dan terakhir masih SD. Mungkin sejak adiknya itu (yang akan wisuda) mendapatkan pacar baru, jadi bisa semakin ramah sama semua orang..hahaha.

Suasana di Rumah Gilang: 1.Main poker. 2.Gilang mempersiapkan berkas lamaran disaksikan ayahnya. 3.Etik, istri Gilang. 4.Pura-pura merokok di belakang rumah. 5.Menggendong Noya karena ibu lagi masak

Sewaktu di Gresik, saya juga sempat bertemu dengan teman saya yang lain, Agre (Gentong) dan Jaka (Bang Jack). Kami menyempatkan pergi ke WBL (Wisata Bahari Lamongan) yang semasa kuliah dulu belum pernah saya kunjungi.

Jalan-jalan ke WBL (1. Dari kiri : Jaka, saya, Agre, Gilang. 2.Foto di pintu masuk WBL. 3.Bersama Jaka. 4.Duduk santai di taman

Setelah puas liburan di Gresik, saya kembali ke Surabaya untuk menghadiri wisuda teman seperjuangan saya di MBP ITS dulu, Roynando Napitupulu tanggal 24 September 2011 di Graha ITS.

1.Roy bersama Muara. 2.Suasana prosesi wisuda ITS ke 103

Selain menghadiri wisuda ITS ke 103, saya juga sempat menghadiri wisuda adik Gilang, Dyah Ayu, tanggal 27 September 2011. Wisuda kampusnya dipusatkan di Graha ITS karena disatukan dengan kebidanan-kebidanan lainnya seluruh Jawa Timur yang masih satu yayasan. Pada saat menghadiri wisudanya inilah saya ditelp lagi oleh BCA untuk memastikan tanggal sign contract saya di BCA  :-).

1. Foto bersama Ayu. 2.Ayu bersama Ayah dan Ibu . 3.Senyum bahagia

Selamat berjuang dan berbahagia Gilang, selamat Wisuda Roy, selamat wisuda juga Ayu

2 Comments

    • nestoriko

      :shakehand2 thank hen commentnya..good luck juga bro bwt mu..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

[+] kaskus emoticons nartzco

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.