Opung

Waktu masih anak-anak, saya hanya mengenal 2 orang Opung saya (Opung: panggilan kepada kakek atau nenek pada suku Batak). Dari keluarga Bapak, saya hanya mengenal Opung Doli (kakek) dan dari pihak Mamak, saya hanya mengenal Opung Boru (nenek). Sementara 2 (dua) lainnya sudah lebih dahulu meninggal sebelum saya lahir. Tidak banyak kisah yang saya lewatkan bersama Opung Doli saya. Beliau dulu tinggal di daerah Sidikalang, tempat Bapak saya dilahirkan. Saya hanya bisa mengingat 2 kali perjumpaan kami saat saya kecil. Beliau meninggal saat saya masih Sekolah Dasar.

Berbeda dengan Opung Boru dari Mamak. Cukup banyak hari yang saya lewatkan bersama beliau. Mungkin karena perbedaan akses dan lokasi tempat tinggal, saya melihat keluarga kami lebih sering pulang ke kampung Opung Boru di Rihninggol (sebuah desa di Kab. Simalungun) yang juga merupakan tempat saya dilahirkan. Bahkan, Opung Boru juga sangat sering berkunjung ke rumah kami. Kalau melihat cara Bapak saya menyayangi Opung, tidak heran hal tersebut terjadi. Kami cucu-cucunya juga sangat senang melayani Opung. Bapak sangat suka membuatkan teh atau kopi di pagi hari untuk Opung, memasak untuk Opung, tidak sungkan memijat kaki Opung kalau sakit, suka bercengkrama, dan tertawa bersama. Kedekatan dengan keluarga kami membuat beliau betah berlama-lama di rumah. Bisa berminggu-minggu lamanya.

Adik bungsu saya bersama Opung

Saat saya memasuki Sekolah Menengah Pertama (SMP), saya memberanikan diri untuk merantau ke Pematang Siantar. Hampir setiap akhir minggu saya pasti bersama Opung Boru, ntah itu saya yang ke Rihninggol atau beliau yang ke Pematang Siantar (jarak Pematang Siantar ke Rihninggol sekitar 40 Km). Opung sudah menjadi teman bagi saya apalagi saat itu saya sedang mengalami perjuangan hidup yang cukup berat untuk usia remaja 12 tahun. Saya masih ingat bagaimana beliau menunjukkan cara menanam kacang tanah, memanen kemudian menggorengnya menggunakan pasir. Saya juga masih ingat betul bagaimana rasa ikan pari yang dibakar Opung untuk kami makan berdua bersama nasi putih yang masih hangat. Nikmatnya membuat saya sangat menyukai ikan pari sampai sekarang. Opung boru juga terkenal pembersih. Setiap hari rumahnya selalu dipel. Tidak pernah saya temukan ada piring kotor menumpuk di dapur. Sampai-sampai anak tetangga yang jadi teman saya di Rihninggol takut kalau bermain ke rumah opung karena terlalu bersih. Saya jadi tahu kalau sifat pembersih yg diwariskan Mamak berasal dari Opung Boru.

Keputusan saya untuk kuliah di Surabaya otomatis membuat kami jarang bertemu. Hanya bisa menyapa melalui telp. Ada kisah sedih yang masih segar diingatan saya sampai saat ini karena rasa bersalah. Saat itu saya sedang training BCA Development Program (BDP) di Jakarta. Saya mendengar kabar dari Mamak kalau Opung sakit di Rihninggol. Saya kemudian menelp Maktua (kakak dari Mamak) yang sedang merawat Opung untuk berbicara kepada Opung. Kalimat yang saya dengar dan saya ingat sampai saat ini adalah: “Dimana kamu, bawa dulu saya ke rumah sakit” (dengan bahasa Batak dan suara lemah), berkali-kali. Saya menangis karena tidak bisa berbuat apa-apa.

Sebelumnya Opung memang sempat tinggal dan dirawat di rumah kami namun meminta untuk kembali ke kampungnya. Mamak memang bercerita kalau Opung saat itu sulit dipaksa untuk tetap tinggal di rumah. Bahkan saya pernah memintanya langsung untuk tetap di rumah namun dia memilih untuk pulang kampung. Katanya saat itu lebih memilih untuk meninggal di kampungnya sendiri walaupun kami berjanji akan membawa jasadnya kesana jika memang Tuhan memanggil dia di rumah kami. Mamak akhirnya menyerah karena opung semakin sensitif.

Opung meninggal saat saya sudah ditempatkan kerja di Manokwari, Papua Barat, tanggal 4 bulan 4 tepat 4 tahun yang lalu. Saya pertama kali mendengar kabar tersebut dari Kakak saya. Ntah kenapa rasa menyesal karena tidak pernah merawatnya selalu menghantui saya.

Terima kasih Opung untuk kasihmu yang akan selalu kami ingat. Maaf yang sebesar-besarnya belum pernah menjadi cucu yang hebat di hadapanmu.

Sebagian keluarga besar Opung Boru (atas). Peti Opung Boru dibawa ke pemakaman (bawah)

Note: Foto paling atas adalah pertemuan terakhir saya dengan Opung saat masih hidup. Diambil tanggal 27 Desember 2013 Pukul 09.38 WIB di rumah Tulang (putra Opung satu-satunya) di Pematang Siantar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

[+] kaskus emoticons nartzco

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.