Sekarang, Aku Sendirian

Kemarin, Kamis 1 April 2010 menjadi hari yang kurang enak bagi saya. Saya merasa dikejar-kejar tugas kuliah yang memang semakin banyak dan cukup mendesak. Tadinya saya merasa aman-aman saja karena penyelesaian tugas-tugas sebelumnya bisa berjalan sesuai dengan rencana. Tapi yang namanya mahasiswa memang tidak pernah lepas dari tugas-tugas baru. Itulah yang saya alami kemarin.

Namun, ada hal yang membuat kemarin menjadi hari yang semakin kurang enak. Sejak pertama kali menjadi anak kos saat masih SMA, saya selalu sekamar dengan teman. Dulu alasannya karena saya suka punya teman ngobrol dan teman sekamar saya waktu SMA dulu memang teman akrab sejak kecil sehingga kami berharap agar bisa bersama-sama. Bukan karena biaya, soalnya sendirian atau berdua sekamar, bayaran per bulannya adalah sama. Alasan lain muncul sejak saya kuliah. Saya akui, di Surabaya biaya hidup untuk makan memang jauh lebih murah dibandingkan di Sumatera Utara. Tapi, harga sewa kamar kos di sini cukup mahal. Saya memilih sekamar berdua supaya harga sewa yang saya bayar jadi lebih murah (karena dibagi dua). Dan ternyata ada saja keuntungan-keuntungan lain yang bisa didapatkan. Selain karena dapat teman dekat, sewa kamar lebih murah, kami bisa menerapkan simbiosis mutualisme. Di saat saya membutuhkan sesuatu, ada teman yang bisa dengan cepat membantu. Di saat dia membutuhkan bantuan, saya bisa dengan cepat membantu. Pilihan untuk tidak sendirian satu kamar terus saya pakai sampai hari Kamis kemarin.

Sejak semester tiga, saya ngokos dengan seorang teman satu sekolah dulu. Sebenarnya dia adik kelas satu tahun di bawah saya. Kalau dihitung-hitung, kami sudah 3 tahun lebih bersama-sama. Cukup lama. Kalau dilihat dari segi pemikiran, saya memang lebih cocok dengan dia. Idealisme atau pemikiran kami dibanyak hal bisa dikatakan sama. Hal itu membuat saya senang berdiskusi dengan dia. Sampai di organisasi mahasiswa yang kami ikuti bersama, kami selalu menjadi sekutu yang melawan segala kecurangan yang kami temui (ada begitu banyak cerita tentang itu yang masih saya pendam sejak lama. Suatu saat akan saya ceritakan). Meskipun dilihat dari segi kebiasaan, kami cukup berbeda. Saya suka main alat musik, dia suka gaming (namun selera musik kami bisa dikatakan sama, Pop, Dangdut, Klasik, dan lagu Batak). Saya paling tidak suka jika kamar kos berantakan apalagi kotor. Dia malah malas mengurus penampilan dirinya sendiri. Tapi yang membuat kami bisa berteman baik adalah kebiasaan untuk saling membantu, menyemangati, dan mendukung apa yang ingin kami cita-citakan. Contoh kecilnya, ketika sama-sama tidak punya uang, beruntunglah saya rajin menabung uang receh. Sehingga kami masih bisa makan untuk beberapa hari. He3x. Masih banyak hal-hal yang kami alami baik suka dan duka. Saya ingin sekali menceritakannya suatu saat sampai habis. Tapi yang pasti, cerita-cerita itu membuat saya memikirkannya sampai sekarang.

Meskipun dia adalah junior saya, tapi usianya memang lebih tua tepat 1 bulan dibandingkan saya. Hal itu juga yang membuat saya lebih suka dipanggil dengan sebutan nama dibandingkan “abang” (dulu dia memanggil saya dengan sebuatan “abang”;). Dengan keakraban itu pula kami tidak segan-segan untuk saling sharing masalah pribadi. Sampai hal ciuman mesra dengan pacara masing-masing pun saling kami ceritakan. Ha3x. Tapi, ntah kenapa, untuk masalah yang sedang dia hadapi sekarang, dia kurang terbuka. Saya hanya bisa menebak bahwa dia sedang menghadapi masalah keluarga yang cukup pelik. Dulu dia pernah merencanakan untuk berhenti kuliah karena masalah keluarga. Memang bukan masalah keuangan. Tapi beruntungnya saya masih bisa membujuk dia untuk mengurungkan niatnya karena kenekatannya justru menambah masalah bagi keluarganya di kampung halaman. Sialnya, kali ini kenekatan yang sama muncul lagi. Dia memutuskan untuk cuti selama 2 semester. Saya yakin itu adalah rencana yang sangat super mendadak. Karena, di awal-awal semester, seperti biasa kami berlomba-lomba untuk mengatur rencana akademis dan nonakademis yang harus kami capai. Kami selalu punya rencana untuk bisa mencapai IP tertinggi, dia berencana untuk kerja praktek di akhir semester ini. Tapi semua rencana yang dia buat menjadi berantakan akibat keputusannya untuk cuti 2 semester. Yang saya tahu, dia berkata kalau dia disuruh orang tuanya untuk pulang.

Akhirnya, keputusannya untuk cuti membuat saya harus membiasakan diri untuk ngekos sendirian. Saya harus membiasakan diri untuk tidak punya teman ngobrol di kamar kos. Saya harus membiasakan diri untuk tidak terbiasa dengan kebiasaan-kebiasaan yang biasanya kami lakukan.

Yang paling membuat saya cukup sedih adalah saya harus kehilangan seorang teman. Mungkin kemarin menjadi hari tearkhir kami bertemu untuk sementara waktu karena sesuai rencana, saya ingin menyelesaikan studi saya di ITS semester ini. Sedangkan dia akan kembali sekitar bulan 2 tahun 2011. Harapan saya hanya satu, masih bisa bertemu dan melihat dia menyelesaikan tugasnya sebagai mahasiswa.

Good Luck Sampe A. Sihombing. Tuhan Yesus Kristus pasti membantumu menyelesaikan segala masalah dalam hidupmu. Bebanmu akan menjadi sangat super duper ringan jika menyerahkan ke tangan pengasihan Yesus Kristus.

2 thoughts on “Sekarang, Aku Sendirian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

[+] kaskus emoticons nartzco