Mengapa (Harus) Menikah?

Dulu istri saya suka bertanya alasan saya mau mencintainya saat masih pacaran. Mungkin karena saya kurang romantis jadinya ditanya terus menerus. Sedikit bercanda, saya jawab saja “biar pernah”. “Biar pernah” memang sejak dulu menjadi motto hidup saya untuk melakukan hal baru.
Walaupun menjadi motto hidup, frasa tersebut tidak saya lontarkan ketika ditanya kenapa saya harus menikahinya. Bagi saya ada alasan yang lebih sempurna yang mendasari saya menjadikannya pasangan sehidup semati. Terlepas dari alasan beberapa manusia yang menolak untuk menikah karena kepercayaan (agama), ideologi, atau karena zat kimia yang terkandung di dalam tubuhnya (tidak punya rasa cinta), ada 3 alasan utama mengapa saya dan Anda harus menikah.

1. Bapak ilmu ekonomi modern, Adam Smith, menyebut manusia Homo Homini Socius yang berarti manusia menjadi sahabat bagi manusia lainnya. Anda dan saya butuh sahabat yang bisa menjadi pendamping hidup saat senang dan susah. Orang tua atau saudara kandung kita suatu saat akan meninggalkan kita atau malah kita sudah meninggalkan mereka sejak lama karena merantau. Seorang istri/ suami menjadi sosok yang berperan sebagai sahabat sehidup semati.

2. Di dalam tubuh makhluk hidup terdapat senyawa feromon yang berfungsi menjadi perangsang untuk zat testosteron dan estrogen. Berbeda dengan hewan yang menggunakan kedua zat tersebut hanya untuk kebutuhan seksual, dalam tubuh manusia senyawa-senyawa tersebut berperan dalam menimbulkan rasa ketertarikan, suka, bahkan cinta kepada lawan jenis. Rasa cinta itu biasanya dilampiaskan dengan memberikan rasa perhatian, kepedulian, kasih sayang, rela berkorban, aktivitas romantisme seperti memberi coklat di hari valentine, suka memberi kejutan, dll. Saya dan Anda butuh orang lain yang menjadi subjek yang tepat untuk mencurahkan segala rasa tersebut. Tentu tidak lucu jika Anda memberikannya kepada istri atau suami orang. Bahkan, menurut Abraham Maslow (1908-1970) dalam teori Hierarki Kebutuhan Manusia, mencintai dan dicintai itu merupakan kebutuhan tingkat ketiga (social need).

Artinya, menikah memang cara untuk memenuhi kebutuhan manusia,. Bukan karena lelah ditanyain saat reuni atau hari besar agama. Maka carilah suami atau istri sendiri untuk mencurahkan rasa cinta kepada lawan jenis.

3. Kita perlu berbagi untuk bahagia.

Setahun Menikah

Tanggal 12 Nopember 2016 menjadi hari bahagia saya. Meskipun rangkaian pernikahan adat Batak membutuhkan tenaga dan waktu yang tidak sedikit, hal tersebut tidak mengurangi rasa bangga saya bisa mendapatkan pasangan hidup yang sempurna dan turut melestarikan budaya Batak.

Terima kasih untuk “myhasian” Rosmawanty E. D. Sitohang. Setahun masih terasa sangat singkat untuk kita merangkai cerita hidup yang menginspirasi. Doa saya semoga kita segera mengakhiri masa LDM dan bisa punya keturunan yang bijaksana.

PRE WEDDING

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

[+] kaskus emoticons nartzco