Malaysia :Potret Negara Sombong yang Tidak Memiliki Toleransi Beragama

Kesal rasanya mendengar dan melihat berita pembakaran gereja-gereja di Malaysia yang menjadi buntut diperbolehkannya rakyat non-muslim menggunakan kata “Allah” sebagai sebutan untuk Tuhan Sang Pencipta alam semesta oleh pengadilan di negara tersebut. Ini menjadi bukti nyata bahwa Malaysia benar-benar penuh dengan orang yang otaknya penuh dengan tindakan anarkis.

Kasus ini sebenarnya sudah lama muncul. Kalau rekan-rekan baca berita-berita seputar kasus larangan penggunakan kata “Allah” bagi non-muslim di Malaysia yang sekarang kembali membanjiri koran maupun situs berita online, pembaca bisa tahu bahwa kasus ini bermula ketika Pemerintah Malaysia melarang surat kabar Katolik “The Herald” di Malaysia menggunakan kata “Allah” dalam setiap artikelnya. Larangan itu dikelurakan oleh Menteri Pertahanan Dalam Negeri Malaysia tanggal 10 Desember 2007. Alasannya, kata “Allah” adalah milik umat Islam dan tidak boleh diucapkan oleh non-Islam di Malaysia. Pihak Gereja di Malaysia pun menuntut karena mereka menganggap bahwa setiap warga Malaysia berhak menggunakan bahasa Melayu dalam komunikasinya. Penggunaan kata “Allah” dalam surat kabar itupun karena mengikuti Injil berbahasa Melayu yang sudah berabad-abad menggunakannya.

Kasus tersebut menjadi hangat lagi setelah pengadilan mencabut larangan itu pada tanggal 31 Desember 2009. Karena tidak terima, beberapa kelompok Islam melakukan aksi anarkis dengan membakar sejumlah Gereja di Malaysia. Aksi anarkis ini jelas menunjukkan bahwa di Malaysia, kaum minoritas masih termarjinalkan, masih tidak bisa hidup tenang, masih tidak bisa mendapatkan hak penuh sebagai warga negara Malaysia.

Kalau dipikir-pikir, masih beruntunglah kita umat Kristiani dan non-muslim lainnya yang hidup di Indonesia ini. Kita masih mempunyai saudara umat Islam yang memiliki pendidikan keagamaan dan kewarganegaraan yang tinggi sehingga mengerti tentang pentingnya toleransi beragama di lingkungannya. Kita masih beruntung pernah mempunyai seorang tokoh pluralisme Alm. K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang selalu membela kaum minoritas di Indonesia dan saat ini telah mewariskan pemikirannya itu. Yach, meskipun saya yakin di Indonesia pasti ada kasus serupa atau mirip dengan yang terjadi di Malaysia yang tidak terungkap secara tegas (saya dengar cerita dari senior saya di GMKI bahwa di umat Kristiani di Indonesia juga pernah dilarang menggunakan kata “Allah”. Tapi saya mau cari buktinya dulu).

Malaysia tidak layak dijadikan benchmark bagi negara yang ingin belajar membina keharmonisan antar umat beragama. Malaysia hanya layak dijadikan benchmark bagi negara yang ingin mengirim teroris ke negera tetangganya.

Ingin sekali rasanya mendengar jawaban dari Ahmadinejad (Presiden Iran yang sedang dikecam oleh rakyatnya) jika bertanya : “Who is The Real Terrorist?

Gak kebayang deh kalau saja Inggris melarang orang yang bukan warga Inggris menggunakan kata “God” dalam komunikasinya dengan alasan “God” hanya milik orang Inggris. Bisa-bisa gak akan ada lagi istilah “Oh Em Ji (OMG=Oh My God)” yang selalu diucapkan teman-teman saya baik yang Kristen maupun yang Islam. Gak seru lagilah. Hilang 1 kamus.

Sumber yang wajib dibaca:
  • http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/12/tgl/26/time/165748/idnews/871045/idkanal/10
  • http://www.christianpost.co.id/asia/asia/20100101/5112/pengadilan-tinggi-malaysia-akhirnya-ijinkan-penggunaan-kata-allah/index.html
  • http://www.christianpost.co.id/missions/persecution/20100103/5116/ijin-penggunaan-kata-allah-oleh-pengadilan-malaysia-menuai-protes/index.html
Baca juga dukungan Partai Islam se-Malaysia terhadap umat Kristiani:
  • http://www.themalaysianinsider.com/index.php/opinion/mujahid-yusof-rawa/48436-perkataan-allah-dan-golongan-munafik
Please follow and like us:

3 Comments

  • Mas Ngabei Reply

    Menurut Mas yang sudah malang melintang di dunia entah berantah, Malaysia itu kalo di tekan baru mengatakan Negara Serumpun , tapi kalo gak di tekan seakan-akan negaranya yang paling kuat di Asia tenggara karena dukungan Inggris dan Australia (Negara persemakmuran ) pada dasarnya masih setengah merdeka. Tekan Terus Malysia dari Dunia Nyata atau Dunia Maya. HIDUP INDONESIAKU, JANGAN PERNAH ANARKIS DAN BERSATULAH !!!

  • slams Reply

    hmmm malaysia, mungkin masih saudara serumpun dengan kita
    tapi alangkah baiknya tidak membicarakan hal hal yang dapat memprovokasi ke tindakan anarkis,

    lebih baik bicara yang baik baik aja….
    (karena nila setitik, rusak susu sebelanga)
    .-= slams´s last blog ..Tukang Loenpia.net =-.

    • HelNes Reply

      Supaya kita bisa melihat yang sebenarnya mas..justru tindakan anarkis kayak Malaysia itu yang tidak boleh dibiarkan..saya bisa merasakan perasaan umat Kristen ketika Gereja tempat mereka ibadah di rusak. Justru mereka bukan cuma meneteskan setitik nila, tp sudah 1 belanga nila.

      Semoga ada seorang “Gus Dur Malaysia” di sana..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

[+] kaskus emoticons nartzco