Angka 5 : Angka Lambang Kesepian di Akhir Tahun 2009

Angka 5 : Angka Lambang Kesepian di Akhir Tahun 2009

“…biarpun jauh dari keluarga, tapi di Natal ini ada teman-temanmu yang menemanimu. Bermimpilah Ko, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu”.

Sepenggal isi sms yang dikirimkan seorang teman lama yang masih mau menyempatkan diri untuk mengunjungi saya di Surabaya. Dia memang bukan teman biasa. Dia teman sejak masih kecil, teman sekelas waktu Sekolah Dasar, teman sekelas waktu SLTP, teman satu SMA, dan sempat bersama-sama mencoba PMDK ke salah satu perguruan tinggi negeri di Semarang, meskipun sama-sama ditolak.

Rencana indah Tuhan memang mempertemukan kami lagi di pulau Jawa setelah tahun 2009 ini dia diterima di salah satu perguruan tinggi negeri di Bogor. Sudah 4 tahun rasanya saya melewatkan studi di ITS Surabaya. Namun, dengan usia yang semestinya sudah menyandang gelar sarjana, dia tetap semangat untuk menjadi seorang mahasiswa baru di kota Bogor tersebut.

Dia tidak sendirian, bersama adiknya dan seorang teman spesial lain yang saya kenal sejak SMA yang sejak tahun 2006 menempuh kuliah di salah satu perguruan tinggi di Depok. Membaca sms yang saya terima tersebut semestinya sudah bisa membuat saya untuk tetap bersyukur karena mereka datang untuk menemani saya di Natal tahun 2009 ini. Kalimat terakhir yang dikutip dari cerita Novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata yang ada di sms itu seharusnya bisa membuat saya semakin semangat. Saya sebenarnya yakin bahwa akan selalu ada teman yang mau menemani saya di hari-hari spesial seperti Natal untuk menggantikan keluarga saya. Bahkan sampai saat ini pun saya yakin di saat saya merasa sedang sendirian, sebenarnya ada seseorang yang selalu menemani saya.

Tetapi bagaimanapun, saya harus mengakui bahwa saya juga bisa merasa bosan. Bosan melewati Natal tanpa berada ditengah-tengah orang tua dan saudara-saudara saya. Sudah 5 kali berturut-turut saya mengalami masa-masa seperti ini sejak saya jauh dari keluarga yang masih tinggal di Sumatera Utara. Tidak mungkin bagi saya untuk pulang saat-saat Natal seperti ini. Keadaannya selalu sama tiap tahun. Waktu yang tidak tepat dan terlebih lagi biaya yang harus saya keluarkan. Tahun ini Natal berada ditengah-tengah jadwal Ujian Akhir Semester. Tahun ini harga tiket pulang ke Sumatera juga melangit, jauh lebih tinggi dari pesawat terbang diangkasa.

Saya tidak ingin menyalahkan siapapun dan tidak akan menyalahkan siapapun termasuk diri saya sendiri karena saya yakin ada begitu banyak rencana indah Tuhan untuk saya. Dan saya hanya perlu bertanya pada Tuhan khususnya dalam mencapai mimpi-mimpi saya yang sedang dipeluk oleh-Nya.

Di saat Anda merasa sedang sendirian, yakinlah bahwa ada yang menemani Anda.

Selamat NATAL untuk kita semua..GBU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

[+] kaskus emoticons nartzco

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.