Pernikahan Kakakku Yanti Sinaga

Tahun ini termasuk tahun yang bahagia buat keluarga kami. Tepat tanggal 7 Juli 2012 kakak saya Yanti Sinaga melangsungkan pernikahannya dengan calon suaminya Edi Simatupang. Segala persiapan sudah dilakukan jauh-jauh hari. Sebenarnya pernikahan tersebut sudah direncanakan diadakan tahun 2011 kemarin dan berlangsung di Jakarta. Tapi mungkin Tuhan punya rencana lain, keluarga calon suaminya berkabung. :mewek2

Akhirnya pesta pernikahanpun diadakan di rumah kami sebagai mempelai perempuan di Sumatera Utara dan baru bisa berlangsung tahun 2012 ini. Dalam adat Batak, pesta pernikahan pada umumnya diadakan di rumah mempelai pria.

Undangan Pernikahan Kak Yanti dan Lae Edi

Persiapan saya sendiri tidak banyak. Berhubung memang saya sedang training di Jakarta sehingga tidak bisa membantu banyak persiapan di rumah kami di Sumatera Utara sana. Beruntungnya pada saat bulan Juli tersebut saya sedang menjalankan On Job Training (OJT) di kantor cabang sehingga tidak masalah jika ijin meninggalkan OJT. Beruntungnya pihak HRD memperbolehkan saya ijin tanggal 6 (jumat) dan tanggal 9 (senin). :travel

Saya Sempatkan Main Gitar di Soeta Cuma Untuk Gaya :D

Flight saya ke Medan tanggal 5 Juli 2012 pukul 18.00 WIB. Saya berangkat bersama kakak sepupu yang tinggal di Jakarta. Ongkos ke Medan sangat mahal, sekitar Rp. 1.600.000,- pulang pergi. Itupun belum ongkos perjalanan darat yang memang sangat jauh dari Medan seperti saat pulang kampung dulu. Kami berangkat naik Lion Air dan pulang naik Sriwijaya Air.

Selain bahagia karena kakak saya menikah, saya juga senang karena bisa melepas rindu pulang ke rumah dan bertemu keluarga di sana. Saya juga bertemu dengan banyak sanak famili yang datang dari jauh baik keluarga dari Bapak saya, Mamak saya, dan juga keluarga dari Lae[1] saya.

Acara pernikahannya dimulai sejak pukul 10.00 WIB. Dimulai dengan acara pemberkatan di Gereja HKBP Langga Payung. Saya benar-benar terharu disini ketika melihat prosesi pemberkatan nikah kakak saya dan suaminya. Akhirnya doa kami terjawab. Jujur, secara finansial baik keluarga kami maupun keluarga lae saya tidak mampu menggelar pesta mewah. Tapi dibalik keterbatasan itu muzijat Tuhan terasa nyata. Tuhan selalu memberikan jalan keluar dan penyelesaian yang indah pada pernihakan kakak saya ini. :hope

Foto Dari Kiri : 1. Kakak dan Lae Siap-siap Berangkat. 2. Adik Saya si Andi Bersama Lae Saya. 3. Bapak dan Mamak Bersama Pengantin. 4. Adik Saya Paling Kecil. 5. Bapak Saya

Setelah pemberkatan selesai, acara dilanjutkan ke acara adat. Acaranya dilangsungkan di Sopo Godang[2] HKBP Langga Payung. Acara ini bisa dikatakan ibarat resepsi pernikahan tapi disajikan dengan beragam prosesi dalam adat Batak. Dalam prosesi ini ada Tor-tor[3] yang diiringi musik Gondang[4]. Ada juga prosesi pemberian “berkat” dan pemberian Ulos[5], serta berbalas-balasan pantun oleh Parhata[6]. Benar-benar acara yang seru dan saat ini saya merasa semakin malu karena sebagai orang yang mengaku Batak tapi pengetahuan saya tentang adat Batak masih belum banyak.

Kiri: Prosesi Pemasangan Cincin. Tangah: Pemberkatan Oleh Pendeta. Kanan: Menunjukkan Akte Nikah
Kiri: Koor yang Dipimpin Langsung Oleh Bapak Saya. Tengah: Ucapan Selamat Dari Para Tamu. Kanan: Keluarga Besar Mamak Saya

Makan siangpun langsung disajikan oleh para Parhobas[7] di Sopo Godang itu.  Merekalah yang menjadi event organizer dalam pesta pernikahan ini. Inilah salah satu kelebihan dalam budaya Batak di daerah. Sikap gotong royong masih kental dilakukan.

Adik Saya Paling Kecil

Biasanya pihak Parhobas ini adalah dari keluarga mempelai pria (dilihat dari silsilah keturunan atau marga). Karena perta ini diadakan di rumah kami, tentu sebenarnya para Parhobas ini tidak kenal dengan lae saya. Tapi karena mereka paham bahwa mereka adalah bagian keluarga mempelai pria jika dilihat dari silsilah marga, maka mereka merasa wajib untuk jadi Parhobas tanpa diupah. Hanya berupa minuman atau rokok sudah cukup bagi para panitia ini.

Mungkin ini juga buah kasih Tuhan atas perbuatan orang tua saya selama tinggal puluhan tahun di Kec. Sungai Kanan ini. Bapak saya termasuk tokoh masyarakat yang memang suka membantu orang lain. Jangankan sesama Batak atau sesama Kristen, dari suku dan agama lainpun beliau ringan tangan membantu. Bahkan saya sendiri kadang merasa beliau “terlalu rajin” membantu orang lain. Bapak juga pengajar koor di Gereja HKBP Langga Payung ini. Mamak saya sendiri seorang guru yang pasti sudah dikenal oleh masyarakat sana. Ini membuat para Parhobas dengan suka cita dan iklas membantu keluarga kami.

Undangan pun sangat ramai. Banyak yang mengatakan bahwa pesta pernikahan kakak saya paling ramai sepanjang tahun ini. Bahkan, tidak sedikit undangan yang datang dari pelosok-pelosok yang cuma bisa dilalui menggunakan sepeda motor melalui jalan setapak. Lae saya sendiri kaget ketika mengetahui bahwa undangan disebar sampai pelosok-pelosok daerah. Makanya saya berani katakan kalau mereka adalah “Couple of The Year“. :ngakak

Kiri: Persiapan Menuju Acara Adat. Kanan: Prosesi Tor-tor
Beberapa Papan Ucapan Selamat Dari Bupati Kabupaten Labuhan Batu Selatan, Perusahaan Bus Mitra-Labusel Indah, dan Dari Toga Sinaga

Aktivitas di rumah saya juga tidak kalah menyenangkan. Bertabur dengan tawa dan juga makanan tentunya  :ngakak. Bahkan saya sempat menikmati “susu Batak” alias tuak:beer:. Salah seorang Uda[8] saya terkenal sebagai Parhata juga datang ke rumah saya. Beliau adalah adik kandung dari Bapak saya. Beliau sangat paham dengan adat-istiadat Batak. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan untuk belajar dari dia.

Depan: Saya dan Opung. Belakang: Lae, Kakak Kandung Lae dan Anaknya

Selain menanyakan sedikit mengenai adat Batak, saya juga menanyakan siapa saja keturunan dari Opung[9] saya dari keluarga Bapak. Hebatnya, dia hafal nama-nama saudara Opung saya bahkan sepupu-sepupunya. Bukan cuma itu, dia juga hafal nama anak-anak dari saudara kandung dan sepupu-sepupunya itu. Artinya, dia hafal nama sepupu-sepupu saya yang lainnya  :2thumbup. Hanya 3-4 orang yang dia lupa. Saya catat nama-nama itu dan bermaksud untuk membuatkan bagan keturunan jika sudah di Jakarta nanti.

Hari minggu siang keluarga dari Mamak saya mulai pulang ke rumah masing-masing. Malamnya giliran saya dan kakak saya yang berangkat ke Medan menggunakan bis malam. Uda saya tadi pun berangkat malam itu juga hanya kami berbeda bis. Mereka menuju Sidikalang, daerah tempat tinggal mereka yang juga merupakan tempat kelahiran Bapak saya. Saya benar-benar rindu tempat itu.

Perjalanan ke Medan dengan bis ekonomi cukup nyaman. Ongkosnya Rp. 65.000,-/ orang. Kami tiba di Medan sekitar pukul 06.00 WIB. Terlalu pegi memang mengingat flight kami ke Soekarno-Hatta adalah pukul 13.00 WIB. Sebenarnya saya memesan flight pukul 19.10 WIB menggunakan Sriwijaya Air. Tapi pihak maskapai mengganti jadwal dan menginformasikan beberapa hari sebelum keberangkatan. Mau tidak mau saya harus tetap berangkat malam karena dari desa saya bis yang berangkat langsung ke Medan tidak tersedia setiap saat.

Dari Kiri: 1. Suasana Acara Keluarga Di Rumah. 2. Uda Belajar Koor Bersama Bapak. 3. Tumpukan Ulos yang Terkumpul Dari Pesta Nikah Kakak. 4. Suasana Santai Di Depan Rumah Saya

Sembari menunggu jam 13.00 WIB, kami singgah di rumah kakak sepupu saya (anak dari kakak perempuan Makak saya) di Medan Tenggara (Menteng). Saya sempatkan membeli oleh-oleh berupa Bolu Meranti, Bika Ambon, dan Marquisa. Di bandara Polonia Medan saya sempatkan lagi membeli Kopi Bubuk asli dari Sidikalang.

Lihat Album Pernikahan Lainnya Disini

Keterangan:

  • Lae[1]  : Lae adalah sapaan untuk seorang ipar laki-laki oleh laki-laki. Jadi, kata “lae” digunakan untuk sesama laki-laki. Sapaan ini lazim juga digunakan untuk orang-orang yang dianggap sebaya dan atau dari silsilah marga tidak berada pada grup marga kita atau tidak punya hubungan sama sekali.
  • Sopo Godang[2] : Semacam aula pertemuan yang ada di sebuah gereja Huria Kristen Batak Protestan yang biasa digunakan untuk acara pertemuan, rapat, atau pesta.
  • Tor-tor[3] : Tarian khas suku Batak. Tarian ini pasti selalu dilakukan dalam acara-acara pesta Batak.
  • Gondang[4] : Seperangkat alat musik Batak yang biasa digunakan dalam acara adat. Biasanya terdiri dari gendang-gendang yang ditabuh dengan kayu berukuran sedang (sedikit lebih besar dibanding stik drum), seruling bambu, dan sekarang banyak dilengkapi dengan alat musik modern keyboard.
  • Ulos[5] : Kain adat Batak. Biasanya dibuat dengan ditenun. Tapi ada juga yang dilukis.
  • Parhata[6] : Semacam MC pada acara adat Batak. Parhata ini biasanya sangat pintar mengenai adat dan jago berpantun.
  • Parhobas[7] : Semacam event organizer. Bedanya, mereka bekerja secara gotong royong tanpa diupah.
  • Uda[8] : Uda adalah salah satu sapaan untuk paman dalam silsilah orang Batak. Orang yang dipanggil Uda adalah lebih muda dari Bapak kita dan marganya sama atau sepadan dengan marga Bapak kita (tentunya marga kita juga). Jika lebih tua maka dipanggil Bapa Tua. Selain semarga atau sepadan, Uda juga digunakan untuk panggilan pada suami tante (adik dari Mamak kita). Sedangkan suami dari kakak Mamak kita dipanggil Bapa Tua juga. Panggilan lain untuk paman adalah Amang Boru (suami dari adik Bapak), dan Tulang (saudara laki-laki dari Mamak atau semarga atau sepadan dengan Mamak ataudengan Mamak dari Bapak kita (nenek).
  • Opung[9] : panggilan untuk kakek atau nenek. Untuk membedakannya biasanya orang Batak menyebut Opung Bawa untuk kakek dan Opung Bowu untuk nenek.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

[+] kaskus emoticons nartzco

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.