Berhubung kantor cabang BCA Manokwari, Papua Barat, belum selesai dibangun, maka untuk sementara saya berkantor di KCU Jayapura. KCP Manokwari merupakan kantor cabang dibawah naungan KCU Jayapura. Kesempatan itu saya manfaatkan untuk melakukan pekerjaan secara langsung. Tidak seperti saat OJT yang hanya melakukan observasi. Tentu yang lebih menyenangkan adalah kesempatan untuk menjelajah alam Papua yang masih alami keindahannya. :travel

jayapura

Hari pertama di Papua saya awali dengan hal yang membahagiakan. Saya bertemu kembali dengan si Andi (Muh. Agustriandi). :babyboy Teman kecil sejak masih merangkak, sekolah di SD, SMP, dan SMA yang sama, bahkan sering sekelas. Hanya saja kuliah dikampus berbeda. Tapi sering bertemu ketika dia di Bogor sedangkan saya di Tangerang dan Jakarta. Sekarang bekerja di tanah yang sama, tanah Papua. Keberadaannya di sini termasuk faktor yang membuat saya tidak khawatir merantau ke Papua.

Jayapura Malam Hari
Jayapura Malam Hari

Wisata yang saya nikmati pertama kalinya adalah wisata kuliner. Teman saya Andi mengajak saya menikmati Papeda, makanan khas Papua yang terbuat dari sagu. Bentuknya seperti lem kertas. Cara memakannya adalah dengan men-sruput (seperti memakan mie instan). Lebih enak jika dinikmati bersama ikan kakap kuah kuning. Jayapura kaya dengan ikan laut yang masih segar-segar. Seperti ikan kakap merah, baronang, dll. Hanya saja harganya sangat mahal. Cukup aneh memang, mengingat Jayapura merupakan daerah pesisir pantai yang banyak tangkapan ikan lautnya.

Makan Papeda Bersama Andi
Makan Papeda Bersama Andi

Bukan cuma ikan, komoditas dan jasa lainnya pun harganya bisa 2 sampai 3 kali harga di Jakarta. Contohnya Aqua 1,5 L yang bisa mencapai Rp. 7.000. Harga rata-rata makanan di warteg bisa sampai Rp.25.000 per porsi. Potong rambut ditempat biasa (bukan salon) Rp.25.000 untuk orang dewasa. Sewa kamar kost Rp.1.000.000 non AC dan tanpa fasilitas cuci-setrika. Padahal di Jakarta yang saya pikir kota mahal biaya kost saya hanya Rp. 500.000 dan sudah mendapat fasilitas cuci-setrika. Benar-benar mahal. Tapi semua itu rasanya tergantikan dengan hal postif yang bisa dinikmati disana. Di Papua kita bisa menemui banyak gereja. Bahkan tiap 100 m bisa menemui gereja. Tidak sedikit juga gereja yang berhadap-hadapan di sebelah kiri dan kanan jalan. :angel Pemandangan yang tidak pernah saya temui di Sumatera dan Jawa. Bukan hanya itu, puncak-puncak bukit di kota Jayapura banyak dibangun salib ukuran besar. Kota Jayapura memang berbukit-bukit. Hanya sedikit daerah yang datar.

Kiri: Salib di Atas Bukit Tampak dari Depan Kost Saya. Kanan: Salib di Jayapura City yang Menjadi Salah Satu Icon Kota Jayapura
Kiri: Salib di Atas Bukit Tampak dari Depan Kost Saya. Kanan: Salib di Jayapura City yang Menjadi Salah Satu Icon Kota Jayapura

Tapi mirisnya, banyak orang Papua punya kebiasaan buruk yang bertolak belakang dengan nuansa Kekristenan tersebut. Mereka terkenal suka mabuk dan masih suka dengan kekerasaan. Bahkan ada salah satu suku Papua yang terkenal keras dan ditakuti oleh suku lain. :hammer Jangan terkejut melihat orang mabuk berkeliaran di pinggir jalan. Di Jayapura khususnya, minuman keras dijual dengan sangat bebas. Saya pernah melihat orang yang membeli minuman keras dengan harga ratusan ribu padahal orang tersebut datang tanpa menggunakan alas kaki dan berpakaian sangat kumal (mirip pengemis). Katanya secara finansial mereka miskin. Padahal bisa membeli minuman keras dengan harga ratusan ribu. :beer: Bahkan Papua sendiri mendapat jatah dana otsus (otonomi khusus) dari pemerintah pusat. Tapi ntah kenapa masih tertinggal jauh dari kota lain di Indonesia. Saya harap bukan karena data otsus dipotong ditengah jalan. Sudahlah, saya tidak ingin bicara politik di artikel ini.

Kiri: Andi di Depan Gerbang Kampus Unchen. Kanan: Bersama Andi di Depan Auditorium Unchen
Kiri: Andi di Depan Gerbang Kampus Unchen. Kanan: Bersama Andi di Depan Auditorium Unchen

Tapi Anda tidak perlu khawatir. Orang asli Papua juga banyak yang ramah. Bahkan mereka terkenal suka membuat lelucon karena punya selera humor yang tinggi. Saya pikir sudah saatnya pembaca tidak terprovokasi dengan pemberitaan dan wacana yang selama ini menyalah-nyalahkan pemerintah pusat ataupun orang Papua sendiri. Ibarat makan nasi, kunyah dahulu baru ditelan. Bahkan sepenggal opini saya tadi pun sebaiknya jangan Anda telan bulat-bulat. Kalau perlu datang dulu ke Papua sekalian menikmati keindahan alamnya yang masih alami dan belum dikelola dengan lebih cerdas. :tkp

Selain pusat kota Jayapura, banyak juga lokasi wisata yang memang indah sehingga layak dikunjungi. Sebut saja Danau Sentani. Danau ini sangat indah dan bersih menurut saya. Bandar udara terletak dekat dengan danau ini sehingga dinamakan Bandara Sentani Jayapura.

Danau Sentani, Papua
Danau Sentani, Papua

Saya bersama teman saya si Andi pernah menjelajah sebagian besar pinggiran Danau Sentani menggunakan sepeda motor. Itu sebenarnya tanpa disengaja. Saat itu kami ingin ke SKOUW atau perbatasan Indonesia dengan Papua New Guinea (PNG). Tapi ternyata jalur yang kami lalui salah. Foto diatas saya ambil saat di perjalanan.

Ngomongin tentang perbatasan, beberapa minggu kemudian keinginan itu tercapai. Beruntungnya waktu itu saya diajak oleh Kepala Layanan KCU Jayapura (Ibu Irma) karena mendengar cerita saya yang ingin ke perbatasan tapi salah jalur. Saya memang sangat tertarik ke sana meskipun katanya tidak ada hal yang menarik. Hanya saja saya penasaran karena saya tidak menyangka kalau perbatasan Indonesia-PNG dekat dengan Jayapura. Demi sebuah frase “biar pernah“, saya, Andi, Ibu Irma, dan satu orang teman kantor bergerak ke SKOUW menggunakan mobil. Waktu tempuh hanya sekitar 1 jam. Hebatnya jalan menuju ke perbatasan sangat mulus. Kami juga melewati daerah pemukiman pendatang yang cukup ramai. Perbatasan ini cukup ramai baik oleh orang yang sekedar berkunjung seperti kami atau orang PNG yang keluar masuk gerbang perbatasan untuk belanja. Di wilayah Indonesia ada pasar dimana rakyat Indonesia dan PNG saling bertransaksi jual beli.

Kiri: Saya di Zona Bebas di Depan Pintu Gerbang Masuk PNG. Kanan Atas: Berpose di zona PNG. Kanan Bawah: Pintu Gerbang Masuk ke Indonesia
Kiri: Saya di Zona Bebas di Depan Pintu Gerbang Masuk ke PNG. Kanan Atas: Berpose di zona PNG. Kanan Bawah: Pintu Gerbang Masuk ke Indonesia.

Meskipun hanya masuk beberapa meter dari pintu gerbang PNG, bagi saya itu sudah memuaskan. Akhirnya saya pernah ke luar negeri. Secara internasioanl itu sudah diakui. :siul Pengalaman pertama ke luar negerinya tanpa passport dan hanya dengan berjalan kaki..hahahahaha..Terima kasih Bu Irma.  :shakehand2

Atas: Pantai Hamadi. Bawah: Rawa di Pinggir Pantai Hamadi
Atas: Pantai Hamadi. Bawah: Rawa di Pinggir Pantai Hamadi

Jayapura juga punya wisata pantai yang cukup banyak. Saya pernah ke Pantai Hamadi. Pantai ini memang tidak terlalu menarik karena belum dikelola dengan baik. Pantai ini hanya dikelola oleh penduduk asli Papua. Hal yang membuat kurang menarik adalah biaya yang dikeluarkan jika datang ke pantai ini. Penduduk disana mengenakan tarif parkir untuk motor Rp.10.000 dan mobil Rp.50.000. Sangat mahal. Bahkan jika Anda berpindah lokasi saja, tarif parkir baru akan dikenakan. Sepertinya lahan pantai itu sudah dikavling-kavlingkan oleh mereka. Di sana tersedia tempat duduk. Tapi jika menggunakannya Anda bisa dimintai Rp.200.000 – Rp.300.000.:cd: Harga sebesar itu tidak bisa ditawar. Orang Papua tidak suka dengan tawar menawar.

Pantai kedua yang saya kunjungi adalah Pantai Base Guinea. Biasa disingkat Base-G. Saya akui pantai ini sangat indah. :2thumbup Belum pernah saya jatuh cinta dengan wisata pantai. Tapi sewaktu melihat yang satu ini rasanya seperti dapat hobi baru. Tidak terbayang indahnya pantai di Raja Ampat, Lombok, dan pantai-pantai di Bali yang sudah mendunia tapi belum pernah saya kunjungi. Untuk masuk ke lokasi pantai, Anda diharuskan membayar tiket Rp.10.000 untuk 1 mobil atau 1 motor. Sama seperti pantai Hamadi, hal yang kurang menarik disini adalah tarif parkir yang sangat mahal. Kesannya penduduk yang mengelola tempat itu memalak kita. Sialnya, waktu saya ke Pantai Base-G, kami dikenai tarif parkir Rp.100.000 untuk mobil. Super duper mahal. Hal ini yang membuat pantai-pantai di Jayapura sepi pengunjung.

Pantai Base-G, Papua

Teluk Yos Sudarso (Numbay) Dilihat dari Skyline
Teluk Yos Sudarso (Numbay) Dilihat dari Skyline

Tempat lain yang menarik untuk dikunjungi adalah Skyline. Dari tempat ini kita bisa melihat hamparan Teluk Yos Sudarso (dulu bernama Teluk Numbay) sambil minum es kelapa muda yang dijual disepanjang Skyline.

Masih banyak tempat yang semestinya saya kunjungi. Saya sempat membeli sebuah buku yang mengupas cukup banyak tentang wisata di Jayapura. Dari buku itu saya ketahui bahwa Jayapura memiliki banyak destinasi wisata. Belum lagi Pulau Irian secara keseluruhan. Di Jayapura sempat saya lihat tempat yang menjadi pusat informasi budaya namun belum sempat saya kunjungi. Tempat lain yang sebenarnya ingin saya datangi adalah daerah Lere yang merupakan kawasan perkebunan sawit Sinarmas yang menjadi tempat si Andi bekerja. Saya di Jayapura hanya sekitar 2 bulan. Rasanya masih ingin berlama-lama di sana agar bisa menjelajah alamnya lebih luas. :ngacir2

Sumber beberapa gambar:
aidanfotografi

rezaayomi photography
www.panoramio.com
www.flickr.com
www.mipequenosanctuario.blogspot.com
www.kaskus.us
www.skyscrapercity.com
www.travel.cnn.com

PAPUA! Surga Dunia yang Belum Banyak Terjamah

5 thoughts on “PAPUA! Surga Dunia yang Belum Banyak Terjamah

  • February 14, 2013 at 8:00 PM
    Permalink

    Hallo pak Bandit..sudah sampai Papua rupanya. Sukses selalu. kalau mampir ITS, jangan lupa bawa oleh-oleh buat saya ya…hehehe.

    Reply
    • February 19, 2013 at 4:43 PM
      Permalink

      hahahahaha..iya pak..akhirnya pernah ke sni :thumbup
      saya bawakan khas manokwari & koteka pak.. :ngacir:

      Reply
  • Pingback: Wisata Hemat Ke Raja Ampat Papua Barat | Bandit Batak dot Com | Discover New Spirit

  • October 20, 2014 at 11:39 AM
    Permalink

    Salam kenal Pak Bandit. Kebetulan saya juga ex karyawan BCA di KP. Artikel Bapak di atas sangat bermanfaat. Apakah Bapak punya info tempat kost yang cukup aman di Jayapura? Terima kasih atas perhatiannya.

    Reply
  • September 23, 2016 at 8:41 AM
    Permalink

    Pak y teluk itu arah mana yah?? Skelen itu yah y bnyk berjejer penjual es kelapa dr entrop??

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

[+] kaskus emoticons nartzco