Ini Alasan Tetap Bangga Indonesia Walau Kenal Korea Selatan

nestorikoPergi ke luar negeri sebenarnya bukan keinginan mendesak bagi saya. Saat ini saya lebih mengutamakan menjelajah tempat-tempat eksotik di Indonesia yang keindahan alamnya berkualitas dunia. Setelah mengunjungi Raja Ampat, saya masih berkeinginan pergi ke Misool, Derawan, Lombok, Giri, dan tempat lainnya. Kalaupun ke luar negeri, saya berkeinginan untuk menginjak Papua New Guinea.

Namun, mendapatkan hadiah jalan-jalan gratis ke Korea Selatan dari menang BCA Innovation Award 2014 cukup menyenangkan. Pernah mengunjungi negara pemilik LG tempat saya bekerja bertama kali membuat saya bersyukur. Hebatnya, jalan-jalan ini dikemas dengan benchmarking ke perusahaan-perusahaan high tech yang salah satunya adalah LG. Perusahaan lainnya yang kami kunjungi adalah Samsung, SK Telecom, dan Korea Exchange Bank.

Di kantor pusat LG Electronics Inc, Twin Tower Seoul
Di kantor pusat LG Electronics Inc, Twin Tower Seoul

Kami tiba di bandara Incheon, Korsel, sekitar pukul 08.30 GMT +9 setelah menempuh 8 jam perjalanan dari Soekarno Hatta. Kami diminta oleh panitia untuk menjelajah bandara tersebut dan menemukan kelebihan-kelebihan jika dibandingkan dengan bandara di Indonesia. Incheon memang beberapa kali mendapatkan predikat sebagai bandara terbaik di dunia (2006, 2007, dan 2008). Yang paling terlihat berbeda adalah kerapihan dan kebersihan bandara tersebut. Penanda arah dan informasi sangat mudah ditemukan di bandara tersebut. Orang pasti sulit kesasar. Kereta api penghubung menjadi andalan di bandara ini. Tapi Indonesia juga sudah mempunyai fasilitas tersebut di Kualanamu, Sumatera Utara. Meskipun tergolong masih baru, kita patut berbangga dengan kehebatan itu. Beragam fasilitas lain juga melengkapi bandara Incheon ini. Mulai dari pusat perbelanjaan, pusat makanan dan minuman, serta galeri kebudayaan Korea tersedia di bandara ini. Yang paling membedakan dengan bandara-bandara pada umumnya di Indonesia adalah akses wifi gratis yang kecepatannya tidak diragukan lagi. Di bandara ini kami menghabiskan waktu sekitar 2 jam.

incheon-airport

samsung-d-lightSetelah makan siang, kami melanjutkan kunjungan ke Samsung D’Light di daerah Gangnam. Tempat ini lebih menyerupai galeri produk teknologi Samsung, mulai dari TV, smartphone, home theater, dan lain-lain. Di tempat ini, pengunjung bisa mencoba beberapa arena permainan yang canggih. Kami menghabiskan waktu selama hampir 3 jam di Samsung D’Light.

Perjalanan kami lanjutkan ke Myeong-Dong. Sebuah area perbelanjaan di kota Seoul. Disini terdapat banyak penjual makanan jalan. Kalau di Indonesia biasa disebut PKL. Lokasinya bersih dan tertata rapi. Di tempat ini berjejer pusat perbelanjaan dan restoran. Yang unik adalah terdapat banyak salon kecantikan. Saat ini Korea Selatan memang terkenal dengan kebiasaan penduduknya untuk melakukan operasi plastik. Kebiasaan ini sudah bukan hal tabu disana. Kebanyakan mereka melakukan operasi pada bagian kelopak mata, hidung, dan bagian dagu agar lebih tirus.

Setelah cukup puas di pasar tersebut, kami beranjak ke Hotel Aventree Jongno tempat kami menginap. Hotel ini tidak terlalu mewah. Bisa dikatakan setara hotel bintang 3 yang ada di Indonesia. Tapi hampir semua peralatan disini serba digital. Tak terkecuali closet. Sayangnya semua tombol bertuliskan Han-Geul (aksara resmi Korea). Untung saja tersedia buku panduan sehingga saya tidak salah pencet setelah buang air. Yang menyenangkan adalah akses wifi yang sangat cepat. Tiap malam saya bisa video call menggunakan Line dengan orang penting di Indonesia.

Suasana Pasar Myeong-dong
Suasana Pasar Myeong-dong

Merasa sayang melewatkan malam yang masih panjang di Seoul, saya dan beberapa teman memberanikan diri jalan-jalan di sekitar hotel. Tata wilayah kota yang sudah maju membuat kota Seoul mudah dijelajahi. Kami cukup berkeliling mengikuti jalan dan kami bisa kembali lagi ke hotel dari arah sebaliknya. Di belakang hotel adalah daerah Insadong. Tempat ini banyak toko yang menjual souvenir budaya Korea Selatan. Sayangnya harganya kurang bersahabat dibanding dengan yang ada di Myeong-Dong. Jika jalan malam hari di Seoul, jangan kaget melihat banyak orang mabuk. Orang korea Selatan termasuk suka mabuk. Minuman alkohol khas mereka disebut Soju. Berbeda dengan di tempat saya tugas sekarang, di Seoul orang mabuk di jalan adalah orang-orang yang masih memakai dasi dan jas. Jadi tidak perlu takut diganggu dan mengalami anarkisme.

Hari kedua di Korea Selatan kami isi dengan kunjungan ke perusahaan LG Electronics. Kami mengunjungi kantor pusatnya di Twin Tower di Yeongdeungpo-gu, Seoul. Disini kami bertemu dengan Mas Reza, orang Indonesia yang sudah menjadi manajer di LG Electronics. Oleh Mas Reza, kami dijelaskan sekilas mengenai beberapa inovasi produk yang ada di LG.

soup-ayam-ginseng
Soup ginseng ayam

Makan siang kami nikmati dengan menyantap hidangan Sup Ayam Ginseng. Kuliner di Korea Selatan cita rasanya sangat jauh dibanding dengan di Indonesia. Negara kita kaya akan rempah-rempah yang membuat kita memiliki beragam masakan dengan rasa yang khas. Namun, yang membuat sup ayam ginseng ini unik selain terdapat ginsengnya, nasi dimasukkan di dalam badan ayam. Rasa nasinya juga enak karena lebih legit. Mirip seperti nasi pulut kalau di Sumatera. Hal ini bisa dimaklumi karena orang Korea makan menggunakan sumpit.

sk-telecom-korea

Hari itu kami juga melakukan kunjungan ke SK Telecom, sebuah perusahaan telekomunikasi di Korea Selatan. Di tempat ini kami disuguhkan dengan temuan-temuan teknologi masa depan yang memang belum di pasarkan secara umum. Contohnya adalah mobil listrik dengan konsep auto driver. Rekan kami diberi kesempatan untuk mencoba simulator mobil tersebut. Pengemudi hanya perlu mengatur tujuan akhir maka mobil akan bergerak dan kita hanya perlu duduk manis tanpa repot memegang stir, perseneling, dan menginjak pedal gas. Mobil ini memiliki sistem navigasi yang canggih. Salah satu yang membuat saya takjub adalah munculnya layar video tepat di kaca depan mobil tersebut. Super canggih! Selain mobil listrik tersebut, kami juga disuguhkan sebuah penemuan yang bisa mengkalkulasikan ukuran tubuh dan merekomendasikan model baju yang sesuai dengan tubuh pengguna. Selain penemuan-penemuan konseptual tersebut, terdapat juga sebuah produk yang sudah dipasarkan secara umum, yaitu mini proyektor. Pengguna hanya perlu mencolokkan gadget pemutar video pada produk ini maka layarnya bisa diproyeksikan ke dinding atau media lain. Satu lagi, saya pernah menonton film dimana aktor dalam film tersebut mengoperasikan sebuah layar berbentuk meja untuk melihat gambar, memutar video, dan lain-lain. Di SK Telecom kami melihat benda tersebut. Bahkan bisa dihubungkan dengan layar pada ruangan tersebut sehingga menyerupai gedung bioskop dengan peralatan canggih.

Kiri: Tampilan simulasi mobil autodriver. Tengah: Layar meja untuk mengontrol multimedia. Kanan: Mobil listrik autodriver
Kiri: Tampilan simulasi mobil autodriver. Tengah: Layar meja untuk mengontrol multimedia. Kanan: Mobil listrik autodriver

Sebenarnya saya merasa belum puas di SK Telecom. Kami akhirnya melanjutkan perjalanan lagi ke daerah Dong Daimun tepatnya ke Mall Doota. Ditempat ini kami berbelanja oleh-oleh ke sebuah toko bernama Arirang. Pertama kali datang kami langsung disambut dengan bahasa Indonesia dan juga bahasa Jawa. Ternyata pemiliknya pernah tinggal 15 tahun di Indonesia. Belanja di tempat ini tidak harus membayar dengan mata uang Won. Mereka juga menerima Rupiah. Meskipun Rupiah bukan mata uang yang secara resmi diperdagangkan di luar Indonesia, tapi Rupiah bisa ditukar di Korea Selatan di beberapa Money Changer.

Kami juga sempat mengunjungi Korea Exchange Bank, sebuah bank yang fokus pada remittance dan trade finance. BCA termasuk salah satu koresponden bank tersebut. Saat ini KEB sudah dikuasai oleh Hana Group yang salah satu cabang banknya sudah ada di Jakarta. Di KEB kami bertemu dengan Mbak Irene Margaret, orang Indonesia yang menjelaskan kepada kami profil bisnis KEB.

History of Korean People Museum
Museum di Korea tertata bagus

istana-koreaKeesokan harinya kami mengunjungi beberapa istana yang merupakan bekas kerajaan di Korea Selatan. Istana-istana yang termasuk istana terbesar di Korea Selatan ini dikelola dengan baik sehingga pengunjung tidak bosan mengelilinginya. Sampah yang berserakan tidak akan ditemukan di semua sudut tempat ini. Oleh pemandu kami dijelaskan sejarah Korea Selatan. Berkunjung ke tempat ini serasa berada pada zaman dinasti Joseon. Kami juga mengunjungi sebuah museum sejarah rakyat Korea. Koleksi di museum ini tidak terlalu banyak dan sekaya koleksi museum di Indonesia yang pernah saya kunjungi. Tapi semuanya tertata dengan baik, rapi, bersih, dan sudah memanfaatkan teknologi seperti layar LCD yang menampilkan video kebudayaan Korea. Untuk berangkat ke tempat ini kami mencoba menggunakan kereta bawah tanah (subway) yang sangat cepat dan tepat waktu.

National Palace Museum of Korea
National Palace Museum of Korea

Puas mengunjungi tempat bersejarah Korea, kami melanjutkan aktivitas dengan mendatangi sebuah pusat Ginseng Korea. Korea memang merupakan negeri Ginseng dunia. Wawasan saya tentang ginseng bertambah dari tempat ini. Ternyata ginseng kualitas tinggi harus dipanen setelah 6 tahun (bisa diketahui dari jumlah helai daunnya) dan tidak boleh dipupuk. Ginseng Korea yang merupakan ginseng terbaik di dunia ini tumbuh di daerah dengan 4 musim dimana setelah panen harus menunggu selama belasan tahun baru boleh ditanami lagi. Tidak heran produk akhir yang ditunjukkan kepada kami harganya sangat mahal.

Wisata dihari itu kami tutup dengan pergi ke Seoul Tower di daerah puncak. Tempatnya sangat asri. Dari tempat ini kami bisa melihat kota Seoul dari banyak sisi. Sayang saat itu gerimis dan berkabut sehingga pemandangan tidak terlalu jelas. Bisa dikatakan makan malam yang kami rasakan di Seoul Tower adalah makan malam paling berkualitas selama berada di Korea Selatan. Kami menikmatinya dari ketinggian sambil melihat indahnya kota Seoul sehingga kesannya sangat romantis. Seandainya romantisme itu dinikmati bersama orang tercinta. LOL.

Tanggal 3 Oktober 2014 kami mengakhiri wisata ke Korea Selatan. Pagi hari pukul 07.00 GMT +9 kami sudah diharuskan berangkat ke Incheon yang bisa ditempuh selama 1 jam perjalanan naik bus dengan mulus karena selama di Korea Selatan kami tidak pernah mengalami macet seperti jalanan di Jakarta dengan segudang kesembrautannya. Tidak ada separator jalan namun pengguna jalan disana sangat patuh rambu-rambu lalu lintas. Mereka malu untuk tidak disipin, tidak antri, dan merasa hina jika tidak bekerja keras. Penerbangan kami sebenarnya pukul 10.35 GMT +9. Tapi saya baru sadar kenapa pergi terlalu pagi karena di bandara Incheon antrian imigrasi sangat panjang. Belum lagi kami diharuskan naik kereta untuk bisa mencapai terminal dimana Garuda Indonesia akan berangkat ke tanah air. Keadaan ini memaksa kami harus lari agar tidak ketinggalan. Cukup membuat kecewa.

Mr. Yang Hyun Soo saat menerima miniatur wayang dari PPM Management
Mr. Yang Hyun Soo saat menerima miniatur wayang dari PPM Management

Satu hal lagi yang membuat berat meninggalkan Korea Selatan adalah keramahtamahan pemandu wisata kami, Mr. Yang Hyun Soo. Seorang Korea Selatan yang cukup fasih berbahasa Indonesia karena secara khusus pernah ke Indonesia untuk belajar bahasa ibu kita. Orang yang lucu dan mau meminjamkan wifi-portable-nya untuk kami gunakan selagi berada di bus. Saya rasa sulit menemukan orang seperti dia diantara banyak orang Korea Selatan yang individualismenya semakin tinggi. Paling tidak Negara Republik Indonesia masih menjadi tempat yang paling layak untuk orang seperti saya yang mendewakan keramahtamahan. Semoga ini bukan termasuk chauvinisme.

Bagamanapun di Korea belum ada yang bisa mengalahkan indahnya Raja Ampat
Bagamanapun di Korea belum ada yang bisa mengalahkan indahnya Raja Ampat

3 thoughts on “Ini Alasan Tetap Bangga Indonesia Walau Kenal Korea Selatan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

[+] kaskus emoticons nartzco