<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?> <rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" ><channel><title>Bandit Batak dot Com &#187; OPINI</title> <atom:link href="http://blog.banditbatak.com/category/opini/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" /><link>http://blog.banditbatak.com</link> <description>Hidup Untuk Memuliakan-Nya</description> <lastBuildDate>Tue, 24 Jan 2012 13:36:56 +0000</lastBuildDate> <language>en</language> <sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod> <sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency> <generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator> <item><title>Sekarang, Aku Sendirian</title><link>http://blog.banditbatak.com/opini/sekarang-aku-sendirian/</link> <comments>http://blog.banditbatak.com/opini/sekarang-aku-sendirian/#comments</comments> <pubDate>Fri, 02 Apr 2010 09:10:47 +0000</pubDate> <dc:creator>nestoriko</dc:creator> <category><![CDATA[OPINI]]></category> <category><![CDATA[best friend]]></category> <category><![CDATA[Kost]]></category><guid isPermaLink="false">http://blog.banditbatak.com/?p=424</guid> <description><![CDATA[Kemarin, Kamis 1 April 2010 menjadi hari yang kurang enak bagi saya. Saya merasa dikejar-kejar tugas kuliah yang memang semakin banyak dan cukup mendesak. Tadinya saya merasa aman-aman saja karena penyelesaian tugas-tugas sebelumnya bisa berjalan sesuai dengan rencana. Tapi yang namanya mahasiswa memang tidak pernah lepas dari tugas-tugas baru. Itulah yang saya alami kemarin. Namun, [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kemarin, Kamis 1 April 2010 menjadi hari yang kurang enak bagi saya. Saya merasa dikejar-kejar tugas kuliah yang memang semakin banyak dan cukup mendesak. Tadinya saya merasa aman-aman saja karena penyelesaian tugas-tugas sebelumnya bisa berjalan sesuai dengan rencana. Tapi yang namanya mahasiswa memang tidak pernah lepas dari tugas-tugas baru. Itulah yang saya alami kemarin.</p><p style="text-align: justify;">Namun, ada hal yang membuat kemarin menjadi hari yang semakin kurang enak. Sejak pertama kali menjadi anak kos saat masih SMA, saya selalu sekamar dengan teman. Dulu alasannya karena saya suka punya teman <em>ngobrol </em>dan teman sekamar saya waktu SMA dulu memang teman akrab sejak kecil sehingga kami berharap agar bisa bersama-sama. Bukan karena biaya, soalnya sendirian atau berdua sekamar, bayaran per bulannya adalah sama. Alasan lain muncul sejak saya kuliah. Saya akui, di Surabaya biaya hidup untuk makan memang jauh lebih murah dibandingkan di Sumatera Utara. Tapi, harga sewa kamar kos di sini cukup mahal. Saya memilih sekamar berdua supaya harga sewa yang saya bayar jadi lebih murah (karena dibagi dua). Dan ternyata ada saja keuntungan-keuntungan lain yang bisa didapatkan. Selain karena dapat teman dekat, sewa kamar lebih murah, kami bisa menerapkan simbiosis mutualisme. Di saat saya membutuhkan sesuatu, ada teman yang bisa dengan cepat membantu. Di saat dia membutuhkan bantuan, saya bisa dengan cepat membantu. Pilihan untuk tidak sendirian satu kamar terus saya pakai sampai hari Kamis kemarin.</p><p style="text-align: justify;">Sejak semester tiga, saya <em>ngokos </em>dengan seorang teman satu sekolah dulu. Sebenarnya dia adik kelas satu tahun di bawah saya. Kalau dihitung-hitung, kami sudah 3 tahun lebih bersama-sama. Cukup lama. Kalau dilihat dari segi pemikiran, saya memang lebih cocok dengan dia. Idealisme atau pemikiran kami dibanyak hal bisa dikatakan sama. Hal itu membuat saya senang berdiskusi dengan dia. Sampai di organisasi mahasiswa yang kami ikuti bersama, kami selalu menjadi sekutu yang melawan segala kecurangan yang kami temui (ada begitu banyak cerita tentang itu yang masih saya pendam sejak lama. Suatu saat akan saya ceritakan). Meskipun dilihat dari segi kebiasaan, kami cukup berbeda. Saya suka main alat musik, dia suka <em>gaming </em>(namun selera musik kami bisa dikatakan sama, Pop, Dangdut, Klasik, dan lagu Batak)<em>. </em>Saya paling tidak suka jika kamar kos berantakan apalagi kotor. Dia malah malas mengurus penampilan dirinya sendiri. Tapi yang membuat kami bisa berteman baik adalah kebiasaan untuk saling membantu, menyemangati, dan mendukung apa yang ingin kami cita-citakan. Contoh kecilnya, ketika sama-sama tidak punya uang, beruntunglah saya rajin menabung uang receh. Sehingga kami masih bisa makan untuk beberapa hari. He3x. Masih banyak hal-hal yang kami alami baik suka dan duka. Saya ingin sekali menceritakannya suatu saat sampai habis. Tapi yang pasti, cerita-cerita itu membuat saya memikirkannya sampai sekarang.</p><p style="text-align: justify;">Meskipun dia adalah junior saya, tapi usianya memang lebih tua tepat 1 bulan dibandingkan saya. Hal itu juga yang membuat saya lebih suka dipanggil dengan sebutan nama dibandingkan &#8220;abang&#8221; (dulu dia memanggil saya dengan sebuatan &#8220;abang&#8221;). Dengan keakraban itu pula kami tidak segan-segan untuk saling <em>sharing </em>masalah pribadi. Sampai hal ciuman mesra dengan pacara masing-masing pun saling kami ceritakan. Ha3x. Tapi,<em> ntah</em> kenapa, untuk masalah yang sedang dia hadapi sekarang, dia kurang terbuka. Saya hanya bisa menebak bahwa dia sedang menghadapi masalah keluarga yang cukup pelik. Dulu dia pernah merencanakan untuk berhenti kuliah karena masalah keluarga. Memang bukan masalah keuangan. Tapi beruntungnya saya masih bisa membujuk dia untuk mengurungkan niatnya karena kenekatannya justru menambah masalah bagi keluarganya di kampung halaman. Sialnya, kali ini kenekatan yang sama muncul lagi. Dia memutuskan untuk cuti selama 2 semester. Saya yakin itu adalah rencana yang sangat super mendadak. Karena, di awal-awal semester, seperti biasa kami berlomba-lomba untuk mengatur rencana akademis dan nonakademis yang harus kami capai. Kami selalu punya rencana untuk bisa mencapai IP tertinggi, dia berencana untuk kerja praktek di akhir semester ini. Tapi semua rencana yang dia buat menjadi berantakan akibat keputusannya untuk cuti 2 semester. Yang saya tahu, dia berkata kalau dia disuruh orang tuanya untuk pulang.</p><p style="text-align: justify;">Akhirnya, keputusannya untuk cuti membuat saya harus membiasakan diri untuk <em>ngekos </em>sendirian. Saya harus membiasakan diri untuk tidak punya teman <em>ngobrol </em>di kamar kos. Saya harus membiasakan diri untuk tidak terbiasa dengan kebiasaan-kebiasaan yang biasanya kami lakukan.</p><p style="text-align: justify;">Yang paling membuat saya cukup sedih adalah saya harus kehilangan seorang teman. Mungkin kemarin menjadi hari tearkhir kami bertemu untuk sementara waktu karena sesuai rencana, saya ingin menyelesaikan studi saya di ITS semester ini. Sedangkan dia akan kembali sekitar bulan 2 tahun 2011. Harapan saya hanya satu, masih bisa bertemu dan melihat dia menyelesaikan tugasnya sebagai mahasiswa.</p><blockquote style="text-align: justify;"><p>Good Luck Sampe A. Sihombing. Tuhan Yesus Kristus pasti membantumu menyelesaikan segala masalah dalam hidupmu. Bebanmu akan menjadi sangat super duper ringan jika menyerahkan ke tangan pengasihan Yesus Kristus.</p></blockquote><p style="text-align: justify;"> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://blog.banditbatak.com/opini/sekarang-aku-sendirian/feed/</wfw:commentRss> <slash:comments>0</slash:comments> </item> <item><title>Malaysia :Potret Negara Sombong yang Tidak Memiliki Toleransi Beragama</title><link>http://blog.banditbatak.com/opini/malaysia-potret-negara-sombong-yang-tidak-memiliki-toleransi-beragama/</link> <comments>http://blog.banditbatak.com/opini/malaysia-potret-negara-sombong-yang-tidak-memiliki-toleransi-beragama/#comments</comments> <pubDate>Tue, 12 Jan 2010 07:51:14 +0000</pubDate> <dc:creator>nestoriko</dc:creator> <category><![CDATA[OPINI]]></category><guid isPermaLink="false">http://blog.banditbatak.com/?p=362</guid> <description><![CDATA[Kesal rasanya mendengar dan melihat berita pembakaran gereja-gereja di Malaysia yang menjadi buntut diperbolehkannya rakyat non-muslim menggunakan kata &#8220;Allah&#8221; sebagai sebutan untuk Tuhan Sang Pencipta alam semesta oleh pengadilan di negara tersebut. Ini menjadi bukti nyata bahwa Malaysia benar-benar penuh dengan orang yang otaknya penuh dengan tindakan anarkis. Kasus ini sebenarnya sudah lama muncul. Kalau [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kesal rasanya mendengar dan melihat berita <strong>pembakaran gereja-gereja di Malaysia</strong> yang menjadi buntut diperbolehkannya rakyat non-muslim <strong>menggunakan kata &#8220;Allah&#8221;</strong> sebagai sebutan untuk Tuhan Sang Pencipta alam semesta oleh pengadilan di negara tersebut. Ini menjadi bukti nyata bahwa <strong>Malaysia benar-benar penuh dengan orang yang otaknya penuh dengan tindakan anarkis</strong>.</p><p style="text-align: justify;">Kasus ini sebenarnya sudah lama muncul. Kalau rekan-rekan baca berita-berita seputar kasus larangan penggunakan kata &#8220;Allah&#8221; bagi non-muslim di Malaysia yang sekarang kembali membanjiri koran maupun situs berita online, pembaca bisa tahu bahwa kasus ini bermula ketika Pemerintah Malaysia melarang surat kabar Katolik &#8220;<strong>The Herald</strong>&#8221; di Malaysia menggunakan kata &#8220;Allah&#8221; dalam setiap artikelnya. Larangan itu dikelurakan oleh Menteri Pertahanan Dalam Negeri Malaysia tanggal 10 Desember 2007. Alasannya, kata &#8220;Allah&#8221; adalah milik umat Islam dan tidak boleh diucapkan oleh non-Islam di Malaysia. Pihak Gereja di Malaysia pun menuntut karena mereka menganggap bahwa setiap warga Malaysia berhak menggunakan bahasa Melayu dalam komunikasinya. Penggunaan kata &#8220;Allah&#8221; dalam surat kabar itupun karena mengikuti Injil berbahasa Melayu yang sudah berabad-abad menggunakannya.</p><p style="text-align: justify;">Kasus tersebut menjadi hangat lagi setelah pengadilan mencabut larangan itu pada tanggal 31 Desember 2009. Karena tidak terima, beberapa kelompok Islam melakukan aksi anarkis dengan membakar sejumlah Gereja di Malaysia. Aksi anarkis ini jelas menunjukkan bahwa di Malaysia, kaum minoritas masih termarjinalkan, masih tidak bisa hidup tenang, masih tidak bisa mendapatkan hak penuh sebagai warga negara Malaysia.</p><p style="text-align: justify;">Kalau dipikir-pikir, masih beruntunglah kita umat Kristiani dan non-muslim lainnya yang hidup di Indonesia ini. Kita masih mempunyai saudara umat Islam yang memiliki pendidikan keagamaan dan kewarganegaraan yang tinggi sehingga mengerti tentang pentingnya toleransi beragama di lingkungannya. Kita masih beruntung pernah mempunyai seorang tokoh pluralisme <strong>Alm. K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)</strong> yang selalu membela kaum minoritas di Indonesia dan saat ini telah mewariskan pemikirannya itu. Yach, meskipun saya yakin di Indonesia pasti ada kasus serupa atau mirip dengan yang terjadi di Malaysia yang tidak terungkap secara tegas (saya dengar cerita dari senior saya di GMKI bahwa di umat Kristiani di Indonesia juga pernah dilarang menggunakan kata &#8220;Allah&#8221;. Tapi saya mau cari buktinya dulu).</p><p style="text-align: justify;">Malaysia tidak layak dijadikan <em>benchmark </em>bagi negara yang ingin belajar membina keharmonisan antar umat beragama. Malaysia hanya layak dijadikan <em>benchmark </em>bagi negara yang ingin mengirim teroris ke negera tetangganya.</p><p style="text-align: justify;">Ingin sekali rasanya mendengar jawaban dari Ahmadinejad (Presiden Iran yang sedang dikecam oleh rakyatnya) jika bertanya : &#8220;<strong>Who is The Real Terrorist?</strong>&#8220;</p><blockquote><p style="text-align: justify;">Gak kebayang deh kalau saja Inggris melarang orang yang bukan warga Inggris menggunakan kata &#8220;God&#8221; dalam komunikasinya dengan alasan &#8220;God&#8221; hanya milik orang Inggris. Bisa-bisa gak akan ada lagi istilah &#8220;<strong>Oh Em Ji (OMG=Oh My God)</strong>&#8221; yang selalu diucapkan teman-teman saya baik yang Kristen maupun yang Islam. Gak seru lagilah. Hilang 1 kamus.</p></blockquote><p>Sumber yang wajib dibaca:</p><ul><li>http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/12/tgl/26/time/165748/idnews/871045/idkanal/10</li><li>http://www.christianpost.co.id/asia/asia/20100101/5112/pengadilan-tinggi-malaysia-akhirnya-ijinkan-penggunaan-kata-allah/index.html</li><li>http://www.christianpost.co.id/missions/persecution/20100103/5116/ijin-penggunaan-kata-allah-oleh-pengadilan-malaysia-menuai-protes/index.html</li></ul><p>Baca juga dukungan Partai Islam se-Malaysia terhadap umat Kristiani:</p><ul><li>http://www.themalaysianinsider.com/index.php/opinion/mujahid-yusof-rawa/48436-perkataan-allah-dan-golongan-munafik</li></ul> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://blog.banditbatak.com/opini/malaysia-potret-negara-sombong-yang-tidak-memiliki-toleransi-beragama/feed/</wfw:commentRss> <slash:comments>0</slash:comments> </item> <item><title>Buying New House VS Renting a House</title><link>http://blog.banditbatak.com/opini/buying-new-house-vs-renting-a-house/</link> <comments>http://blog.banditbatak.com/opini/buying-new-house-vs-renting-a-house/#comments</comments> <pubDate>Mon, 11 Jan 2010 08:54:24 +0000</pubDate> <dc:creator>nestoriko</dc:creator> <category><![CDATA[OPINI]]></category><guid isPermaLink="false">http://blog.banditbatak.com/?p=359</guid> <description><![CDATA[Many people out there are just too scared to take that decision of buying a house with their current salary amount. They decide to rent the house instead. Well, it might way too heavy for them to take that thousands dollars decision in buying a house, but as we looked back at what those rent [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Many people out there are just too scared to take that decision of buying a house with their current salary amount. They decide to rent the house instead. Well, it might way too heavy for them to take that thousands dollars decision in buying a house, but as we looked back at what those rent cost have to spend in every month, surely it should be wiser for us to pay the home credit instead of rent cost. While paying the rent is just like throwing away your money for nothing, paying the loan will get you home to be owned at the considerable years though.</p><p style="text-align: justify;">And at that point, you have taken a good decision though. It might harder at the beginning; however there are many ways you can do for lighter terms, such as contacting the mortgage broker. <a href="http://www.web-articles.info/e/a/title/When-to-contact-a-mortgage-broker/"><strong>When to contact a mortgage broker</strong></a> is once you need best references of certain profitable home loan. This is true that with their help, you will be able to get best offers in easier compared as you do your own researches.</p><p style="text-align: justify;">Don’t forget, they are working for you, which it means they should be able to give you <a href="http://www.web-articles.info/e/a/title/Tips-to-Help-You-Decide-Which-Mortgage-is-Best-for-You/"><strong>Tips to Help You Decide Which Mortgage is Best for You</strong></a>. Just get your best time discussing with them about your desired loan term, and they will give you reference of certain options to look.</p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://blog.banditbatak.com/opini/buying-new-house-vs-renting-a-house/feed/</wfw:commentRss> <slash:comments>0</slash:comments> </item> <item><title>Kalau Bisa Dipermudah, Ngapain Dipersulit?</title><link>http://blog.banditbatak.com/opini/kalau-bisa-dipermudah-ngapain-dipersulit/</link> <comments>http://blog.banditbatak.com/opini/kalau-bisa-dipermudah-ngapain-dipersulit/#comments</comments> <pubDate>Thu, 17 Dec 2009 03:56:22 +0000</pubDate> <dc:creator>nestoriko</dc:creator> <category><![CDATA[OPINI]]></category> <category><![CDATA[tips dan trik]]></category><guid isPermaLink="false">http://blog.banditbatak.com/?p=345</guid> <description><![CDATA[Sudah beberapa kali rasanya saya melakukan sesuatu dengan cara yang rumit, agak rumit, atau mendekati rumitlah. Padahal sebenarnya bisa diselesaikan dengan cara mudah. Saya yakin rekan-rekan pembaca juga pernah melakukan hal serupa baik yang rekan-rekan sadari maupun yang tidak. Contohnya saja ketika saya SMA dulu, saya lumayan suka menghabiskan waktu untuk mengerjakan soal-soal dari buku [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sudah beberapa kali rasanya saya melakukan sesuatu dengan cara yang rumit, agak rumit, atau mendekati rumitlah. Padahal sebenarnya bisa diselesaikan dengan cara mudah. Saya yakin rekan-rekan pembaca juga pernah melakukan hal serupa baik yang rekan-rekan sadari maupun yang tidak.</p><p style="text-align: justify;">Contohnya saja ketika saya SMA dulu, saya lumayan suka menghabiskan waktu untuk mengerjakan soal-soal dari buku Matematika dkk  (H) . Tapi saya sering melihat beberapa soal saya selesaikan dengan metode yang lumayan rumit dan panjang, padahal bisa diselesaikan dengan cara yang mudah, bahkan kata guru Matematika saya &#8220;ditengok-tengok aja dapat&#8221; (Baca: cukup dilihat saja bisa diselesaikan). Sisi positifnya memang bisa membuat kita berpikir lebih jauh dan lebih dalam atau melatih otak untuk berpikir lebih sulit. Tetapi, dibanyak kondisi, cara yang simpel, praktis, dan cepat jauh lebih dibutuhkan. Apalagi kalau melihat masalah tersebut tidaklah rumit.</p><p style="text-align: justify;">Banyak jalan menuju Roma, begitu pepatah lama mengatakan. Tetapi sering kita justru tidak memikirkan jalan lain yang sebenarnya bisa kita gunakan dari yang biasanya. Masalah yang biasanya kita anggap rumit, sering membuat kita berpikir bahwa masalah itu hanya bisa diselesaikan dengan cara yang rumit pula. Saya sendiri malah sering tidak percaya dengan cara simpel yang saya gunakan untuk menyelesaikan masalah yang rumit. Ujung-uujungnya, sebuah masalah yang sederhanapun akhirnya membuat kita berpikir untuk menyelesaikannya dengan cara yang rumit.</p><p style="text-align: justify;">Kemarin, tiba-tiba dosen saya memberikan short test (short quis) dikelas. Mata kuliah yang saya ambil ini memang termasuk mata kuliah yang sulit di jurusan saya. Nah, karena dipikiran saya sudah tertanam bahwa mata kuliah ini penuh dengan materi yang sulit, jadinya segala soal-soal test yang diberikan oleh dosen tersebut dianggap sulit. Cukup lama saya berpikir mencari metode yang bisa dipakai. Lama kelamaan sadar juga bahwa sebenarnya soalnya sangat sederhana. Tapi tetap saja saya tidak percaya dengan soal yang sederhana itu. &#8220;Kok cuma seperti ini sih penyelesaiannya? Kok sederhana?&#8221; Pertanyaan itu juga dilontarkan oleh teman-teman dikelas. Hmm, ini dia akibat kita selalu dihujani dengan materi dan soal yang sulit. Ha3x.</p><p style="text-align: justify;">Bagi sebagian orang, tak terkecuali saya, sesuatu yang rumit bisa menjadi tantangan. Tapi seperti yang saya katakan diawal, dibanyak kondisi, cara simpel, praktis, dan cepat sangat dibutuhkan, karena cara yang efektif dan efisien yang lebih dicari. Efektif karena tepat untuk menyelesaikan masalah, dan efisien karena lebih hemat waktu dan biaya.</p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://blog.banditbatak.com/opini/kalau-bisa-dipermudah-ngapain-dipersulit/feed/</wfw:commentRss> <slash:comments>0</slash:comments> </item> <item><title>Heran, Hobby Kok Baca SMS HP Orang Lain Sih?</title><link>http://blog.banditbatak.com/opini/heran-hobby-kok-baca-sms-hp-orang-lain-sih/</link> <comments>http://blog.banditbatak.com/opini/heran-hobby-kok-baca-sms-hp-orang-lain-sih/#comments</comments> <pubDate>Fri, 27 Nov 2009 13:59:38 +0000</pubDate> <dc:creator>nestoriko</dc:creator> <category><![CDATA[OPINI]]></category> <category><![CDATA[hp]]></category> <category><![CDATA[perilaku]]></category> <category><![CDATA[sms]]></category><guid isPermaLink="false">http://blog.banditbatak.com/?p=334</guid> <description><![CDATA[Ngobrol itu cukup mengasikkan. Mendengar orang ngobrol juga bisa mengasikkan apalagi kalau obrolannya itu asyik dan kita bisa tahu seperti apa gaya obrolan mereka. Tapi, kalau sampai memata-matai obrolan orang lain menurut saya bukan termasuk etika yang baik. Ya, salah satunya adalah membaca SMS HP orang lain. 3 tahun yang lalu, seorang junior saya waktu [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Ngobrol itu cukup mengasikkan. Mendengar orang ngobrol juga bisa mengasikkan apalagi kalau obrolannya itu asyik dan kita bisa tahu seperti apa gaya obrolan mereka. Tapi, kalau sampai <strong>memata-matai obrolan</strong> orang lain menurut saya bukan termasuk etika yang baik. Ya, salah satunya adalah <strong>membaca SMS HP</strong> orang lain.</p><p style="text-align: justify;">3 tahun yang lalu, seorang junior saya waktu SMA datang ke Surabaya karena diterima<strong> kuliah di <a href="http://www.its.ac.id">ITS</a></strong> <strong>(Institut Teknologi Sepuluh Nopember)</strong> melalui<strong> jalur PMDK Reguler</strong>. Waktu itu dia tinggal sementara bersama saya. Pernah suatu hari ketika bangun tidur, saya membuka HP karena ada SMS baru. Tapi saya sedikit heran karena melihat ada beberapa SMS yang sudah dalam status terbaca tapi seingat saya belum pernah saya buka dan baca. Saya coba tanyakan ke dia. Eh, ternyata sambil cengar-cengir dia mengatakan membacanya waktu saya sedang tidur. Saya hanya menegurnya agar tidak mengulanginya lagi.</p><p style="text-align: justify;">Tahun ini, ada lagi  junior SMA saya yang datang ke Surabaya karena diterima <strong>kuliah di ITS</strong>. Ntah karena kebetulan (sebenarnya betul), jurusan yang dia pilih sama dengan junior saya 3 tahun lalu dan melalui jalur yang sama, <strong>PMDK Reguler</strong>. Yang lebih kebetulan lagi (lebih cocoknya &#8220;memang betul&#8221;), dia juga mempunyai <em>hobby</em> membaca SMS HP saya. Yang namanya pacaran tentu SMS saya dengan pacar saya penuh kata-kata mesra satu sama lain. Dengan PD-nya dia ketawa-ketawa di depan saya dan teman-teman yang lain sambil meniru-niru isi SMS di HP saya.Parahnya lagi, saya sering melihat dia melakukan hal yang sama.</p><p style="text-align: justify;">Duh, kok isi SMS saya jadi bahan tertawaan? Isinya kan bukan jokes atau cerita lucu? Apa sih lucunya? Biasa aja kalee. Itu kan SMS sepasang kekasih? Biasakan? Lantas?</p><p style="text-align: justify;">Waktu saya tanya apa sih enaknya membaca SMS HP orang? Dengan entengnya dia menjawab, &#8220;Lucu aja. Asyik membaca-baca SMS orang&#8221;.</p><p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" title="Gadi Sexy Baca SMS" src="http://nestoriko.googlepages.com/gadis-sexy-read-sms.jpg" alt="foto gadis sexy membaca sms" />Kalau dipikir-pikir, ada juga benarnya yang dia katakan. Membaca SMS orang lain itu cukup asyik. Ada rasa geli kalau membaca isi percakapan pribadi orang lain. Bahkan, lebih jauhnya kita bisa <strong>mengetahui rahasia pribadi orang lain</strong>. Tapi, itu sangat tidak sopan, sekali lagi sangat tidak sopan karena melanggar privasi orang lain. Ada bagian-bagian dari kehidupan seseorang yang tentu tidak diinginkan diketahui oleh orang lain. Ada yang namanya pembatasan hak akses untuk bagian-bagian tertentu.<strong> Inbox HP</strong> merupakan salah satu bagian yang cukup dijaga privasinya. Banyak hal-hal yang tidak kita inginkan didengar orang lain sehingga kita membicarakannya melalui SMS.</p><p style="text-align: justify;">Oleh sebab itu, mari kita cari <em>hobby</em> baru yang jauh lebih asyik dari pada sekedar membaca SMS HP orang lain.</p><p style="text-align: justify;"><em>Gambar:<br /> www.istockphoto.com</em></p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://blog.banditbatak.com/opini/heran-hobby-kok-baca-sms-hp-orang-lain-sih/feed/</wfw:commentRss> <slash:comments>19</slash:comments> </item> </channel> </rss>
<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Minified using disk: basic
Database Caching 4/23 queries in 0.012 seconds using disk: basic
Object Caching 694/734 objects using disk: basic
Content Delivery Network via www.source.blog.banditbatak.com

Served from: blog.banditbatak.com @ 2012-02-06 15:34:33 -->
