Susahnya Mencari Makna Natal dan Tahun Baru

Beberapa waktu yang lalu, saya mengajak teman saya yang datang dari Depok untuk melihat kondisi lumpur Lapindo di Sidoarjo. Ternyata setelah beberapa bulan tidak datang ke sana, lumpur Lapindo sudah dijadikan objek wisata di daerah itu. Buktinya kami harus merogoh kocek agar bisa naik ke tanggul dan melihat langsung semburan lumpur yang katanya akibat bencana alam (meskipun sudah ada begitu banyak ahli terpercaya yang mengatakan bahwa itu akibat kelalaian manusia atau human error). Padahal dulu ketika saya menjadi relawan dari BEM ITS untuk pengungsi lumpur Lapindo di Pasar Baru Porong, dibayarpun orang belum tentu mau melihat lumpur itu karena baunya yang begitu menyesakkan hidung. Semoga uang yang kami keluarkan memang untuk tiket “wisata” bagi kepentingan daerah, bukan sebagai pungli (pungutan liar) yang masuk ke kantong preman kampung.

Di saat perjalanan pulang kami sempat kehujanan sehingga kami berteduh di salah satu mall besar di Jl. Ahmad Yani Surabaya (bukan di samping Gereja seperti lagu Gereja Tua karya Panbers. Cerita ini lain lagi). Sambil menunggu hujan reda, kami menyempatkan diri jalan-jalan di dalam mall tersebut. Kami melihat sebuah acara sedang dilakukan di lantai dasar. Kalau dilihat dari pernak pernik yang digunakan, acara itu jelas terlihat sebagai acara penyambutan Natal. MC yang masih anak-anak itu juga mengatakan demikian. Tapi isi acaranya tidak seperti acara penyambutan Natal yang ada di Gereja yang pasti diiringi lagu kidung rohani dan selalu ada ceramahnya. Acara yang kami lihat tersebut hanya berisi fashion show dari anak-anak yang diiringi lagu dengan beat tinggi.

Melihat itu teman saya langusng komentar dengan mengatakan: “Inilah acara Natal yang tidak ada Kristus ditengah-tengahnya”. Mendengar perkataannya, saya hanya mencoba untuk mengikuti alur pikiran teman saya itu. Sebagai seorang Kristen yang taat, dia pasti lebih terbiasa melihat dan mengikuti acara Natal yang mengandung makna Natal sesungguhnya, bukan acara pamer lenggak lenggok yang mengatasnamakan Natal demi strategi marketing si pembuat acara.

Berlanjut ke cerita berikutnya. Liburan tahun baru 2010 sengaja saya habiskan di desa teman baik saya. Desa Gumeno, sebuah desa yang sangat bagus di Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Malam pergantian tahun kami nikmati dengan memanggang ikan dan daging di tambak milik keluarganya. Sebuah aktivitas yang sudah lama tidak saya lakukan. Sampai-sampai saya lupa kapan terakhir kali melakukan aktivitas yang sangat menyenangkan itu. Sehabis manggang ikan dan daging, kami memutuskan untuk jalan-jalan ke Gresik Kota. Harapannya sih bisa melihat pesta kembang api.

Namun, yang kami lihat tidak jauh berbeda dengan yang ada di Surabaya, kota yang terkenal dengan udaranya yang panas. Yang dilakukan oleh muda-mudi di Gresik Kota tersebut sama seperti yang dilakukan oleh muda-mudi di Surabaya, yaitu pamer suara motor. Ya, dengan bangganya mereka menggeber-geber suara motor yang mirip suara mesin rusak. Bahkan mereka sengaja melepas knalpot motor yang fungsinya menyaring suara dan asap kendaraan itu agar suara yang dihasilkan lebih keras. Saya tidak tahu persis berapa desibel suara motor-motor itu. Tapi yang pasti kalau didengar terlalu lama bisa membuat gendang telinga yang katanya setipis kulit bawang ini menjadi pecah. Belum lagi polusi dan kemacetan yang ditimbulkan oleh motor-motor sialan itu. Saya rasa Anda sudah bisa mendeskripsikan situasi menjijikkan ini.

Saya mencoba mengamati satu persatu tingkah laku mereka. Mencoba untuk masuk dan mengikuti alur pikiran mereka. Sebagian dari mereka sengaja memberhentikan motornya di tengah jalan, kemudian mulai menggeber gas motornya sampai mengahasilkan suara paling bising se Indonesia dan sekitarnya. Kelakuan itu membuat seluruh kendaraan di belakangnya menjadi berhenti. Lucunya yang lain juga mengikuti dengan menggeber-geber motornya. Mungkin ini efek samping dari adanya larangan bermain petasan oleh Polisi sehingga muda-mudi tersebut menjadikan motornya sebagai sumber penghasil suara bising pengganti petasan. Sebagian orang lagi manggut-manggut kayak ayam ngantuk sambil mengacungkan jarinya membentuk huruf V dan ada pula yang mengacungkan jempolnya mirip iklan RCTI Oke. Mungkin mereka berharap diliput oleh channel televisi tersebut.

Tak ada yang spesial, yang bernilai, dan penting untuk diikuti dari aktivitas mereka. Semuanya menunjukkan kegilaan, keanehan, dan kebodohan. Tidak berbeda jauh dengan orang gila yang tempo hari saya lihat dengan sengaja menumpahkan sampah dari tong sampah ke tengah jalan di dekat rumah teman saya itu.

Seperti Natal yang semestinya dimaknai sebagai momen untuk mensyukuri kelahiran Yesus ke dunia dan mengenang kasih Allah yang besar yang rela mengorbankan Anak-Nya Yesus Kristus disalibkan untuk menyelamatkan manusia dari kebinasaan akibat dosa, tahun baru pun harusnya dimaknai sebagai momen untuk refleksi diri. Tahun baru semestinya bisa kita jadikan sebagai momen untuk merenungkan kebaikan dan keburukan yang telah kita lakukan selama tahun 2009 dan merancang rencana untuk meningkatkan kebaikan dan menebus keburukan tersebut di tahun 2010.

Melihat aktivitas yang dilakukan oleh muda-mudi di Gresik Kota tersebut cukup ironis bagi saya. Secepat itukah mereka lupa bahwa tanggal 30 Desember 2009 kemarin negara kita baru saja kehilangan seorang tokoh kebanggaan,KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang begitu menghargai warna-warni kehidupan kita di Indonesia? Warna-warni yang meskipun membedakan kita tapi seindah percikan kembang api yang melambung di udara. Atau lupakah kita dengan kasus Bank Century yang membuat Negara kehilangan uang triliunan rupiah yang seharusnya bisa digunakan untuk memperbaiki atap ratusan sekolah di pelosok-pelosok tanah air? Atau secepat inikah kita lupa dengan kasus kriminalisasi KPK yang dilakukan oleh oknum-oknum jahanam di lembaga hukum Negara kita? Tidakkah kita sadar begitu buruknya raport lembaga hukum Negara kita di tahun 2009 ini sampai-sampai seorang ibu yang mengeluhkan pelayanan sebuah rumah sakitpun sempat divonis bersalah dan dijerat dengan pasal hasil produk hukum yang semestinya tidak dijeratkan kepadanya? Atau kita dengan mudah memaafkan para anggota dewan yang dengan seenak perut buncitnya melakukan tindak pidana korupsi di Negara ini?

Jika memang iya, maka siap-siaplah melihat kehancuran bangsa ini. Tetapi jika jawabnya adalah tidak, mari kita ganti aktivitas tahun baru dengan lebih bermakna, bernilai, cerdas, dan tentunya lebih waras.

Nih contoh yang tidak waras (H) :

gambar natal gadis sexy

8 thoughts on “Susahnya Mencari Makna Natal dan Tahun Baru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

[+] kaskus emoticons nartzco